Coretan ini kupersembahkan untuk sosok
lelaki yang sedang memperjuangkan cinta dan kesuksesannya. Semoga dia segera
menyelesaikan S1 nya, menjadi arsitek andalan perusahaannya, membangun rumah impian yang sesuai dengan desain nya sendiri lalu membangun rumah tangga bersama wanita yang disayangnya J
Hari
ini matahari enggan menampakkan sinarnya,
dingin terasa menembus kulit romaku. Hujan
mengguyur pagi itu tanpa henti. Pagi yang
seharusnya menampakkan suasana cerahnya,kini gelap karena awan hitam
menghampirinya. Tak ada suara apapun kecuali
rintik hujan. Kabut putih dan tebal
ikut menyelimuti pagi itu. Dari jauh
terlihat sosok wanita yang duduk di
sudut kamar seraya memandang rintikan air hujan. Tatapan wanita
itu tajam setajam mata elang.
Wanita
itu terduduk lemas di atas ayunan yang berada di kamarnya.
Ia bersandar dengan wajah yang semrawut.
Kesalahan terfatal yang pernah ia lakukan
adalah berkata jujur. Kejujuran itu, sungguh
menghancurkan dunianya. Menghancurkan segala
harapannya. Menghancurkan mimpinya. Bahkan juga
menghancurkan hatinya. Langit serasa runtuh
di hadapannya. Tanpa sadar, ia menitikkan
air matanya. Ia merasa, kini ia bukanlah wanita
yang tegar dan kuat. Mungkin, saat itu hatinya benar-benar rapuh. Matanya
terlihat sembab setelah seharian menangis dan
mengurung diri di dalam kamarnya.
Tak
ada yang berubah dalam dirinya, ia
masih bertubuh tinggi dan langsing sama
seperti saat ia masih duduk di bangku
kelas 1 SMA. Ia tetap berkulit putih,
bermata bulat, dengan alis tipis dan
terbentuk, bibir tipis berwarna merah
alami, hidung mancung dengan tulang lunak
lancip, dan bentuk wajah yang bulat. Saat ini, ia
tengah belajar di Universitas Gajah Mada pada semester 5. Gadis manis itu
bernama Berlian Permata Sari.
Pikirannya
masih melayang jauh entah kemana. Rasa
bersalah, bahagia, penyesalan, tertekan, kini
memberontak di pikirannya. Ia seolah
tersesat dalam dunianya dan tak tahu arah
untuk kembali. Keadaan yang terlanjur ia
bangun, kini sulit untuk ia hancurkan kembali.
Benteng itu telah berdiri kokoh, sekokoh
karang yang tak gontai dihempas sang
ombak. Perdebatan antara pikiran dan
perasaannya semakin merasuk pada tulang rusuknya
sehingga menembus jantungnya.
Ia
memandang ke arah luar jendela yang
basah dipenuhi embun dan cucuran air
hujan yang berjatuhan. Ia pun mulai
menjatuhkan kristal-kristal bening di matanya.
Bayangan akan wajah Hangga yang memelas
dan menangis di hadapannya, semakin
menghantui jiwanya. Airmata itu, air mata
ketulusan. Airmata kasih sayang yang
menaruh sebuah harapan. Harapan yang justru
membuatnya semakin merasa bersalah dan
tertekan. Harapan yang sewaktu-waktu dapat
dengan mudah ia hancurkan. Bukan karena
tak sayang, tetapi karena rasa bersalah
itu tak terelakkan. Perasaan tidak pantas,
beradu dengan berbagai jenis keraguan.
Keraguan yang menggerogoti keyakinannya secara
perlahan.
Pemberontakan
hatinya bergulat seperti benang kusut, yang
sulit untuk diurai kembali. Ia bersandar
pada kursi seraya menutup wajah dengan
kedua tangannya. Ia menangis tanpa suara. Pikirannya
buntu. Ia tak tahu harus bagaimana
sekarang. Rasanya hati dan perasaannya beku
seperti tak berfungsi dengan normal.
***
Kehancuran
itu dimulai dari sini....
Malam itu sekitar pukul 18.30
WIB, Berlian bergulat dengan fikirannya
sendiri, sudah sejak lama ia ingin
mengungkapkan sebuah kejujuran. Kejujuran yang
akan berbuah menjadi kepahitan. Ia sudah
memikirkan semua itu dengan matang, apapun
yang akan terjadi nanti, bagaimanapun
resikonya ia akan tetap mengungkapkannya.
Walau kejujuran itu akan merobek hatinya
dan menusuk jantungnya.
Terbesit
sedikit keinginan agar kejujuran itu dapat melepaskannya dalam dilema yang
berkepanjangan agar Hangga segera menghapus Berlian dari hatinya. Meski
sebenarnya hatinya memberontak saat Berlian berniat melepaskan Hangga karena Berlian
sangat menyayangi Hangga. Tapi kejujuran itu memaksanya untuk melepas Hangga,
melepaskan rasa sayangnya untuk Hangga, mengorbankan perasaannya demi
kebahagiaan Hangga yang tak seharusnya ia renggut, dan mungkin yang tersisn
hanyalah rasa sakit yang menghujam jantungnya. Berlian segera meraih
handphonenya dan mengetik sebuah pesan untuk Hangga.
“Ngga...
aku pengen ketemu kamu. Kamu jemput aku ya jam
18.00.. aku tunggu di rumah sekarang! ”Berlian segera mengirim pesan singkat itu kepada
Hangga.
Status
hubungan mereka begitu tidak jelas. Dikatakan kekasih,
mereka sama sekali tidak pernah menjalin
hubungan. Dikatakan teman, hubungan mereka
lebih dari sekedar teman. Bahkan lebih
dari kekasih! Mereka saling menyayangi
meski berulang kali hati mereka menolak
perasaan itu. Hati mereka telah terikat sejak
mereka masih kanak-kanak. Tanpa mereka sadari
perasaan itu muncul begitu saja dan tak seorangpun
dari keduanya dapat menolak perasaan itu. Rasa
sayang itu semakin tumbuh seiring berjalannya
waktu hingga mereka dewasa, dan semakin
lama perasaan sayang itu semakin besar
sehingga tak dapat ditahan lagi. Rasa
sayang itu bersemayam di dalam dada mereka
meskipun Berlian begitu menolak keras perasaan
itu. Ia sama sekali tidak menginginkan
perasaan itu ada, bukan karena tidak
menyukai atau tidak menyayangi Hangga.
Tetapi karena ia memendam sebuah rahasia besar
yang dapat menghancurkan dirinya ataupun Hangga.
Perasaan
Berlian begitu besar terhadap Hangga, tiada
keraguan sedikitpun dalam benak Berlian. Hatinya bening,
sebening air di lautan luas. Putih,
seputih salju. Namun, ketulusan itu
terhempas oleh segala perasaan tertekan yang
bergumul di hatinya. Hatinya diombang-ambing
oleh perasaannya. Hatinya ditarik kesana
kemari layaknya tali yang ditarik
berlawanan arah sehingga hatinya semakin
mendekati kehancuran yang memilukan.
“Tiiiit...
tiiiit....” Sebuah mobil jazz berwarna merah
terparkir di depan gerbang rumah Berlian.
Bi Inem pengasuh Berlian sejak kecil langsung
membukakan gerbang untuk Hangga. Wajahnya begitu berseri-seri,
tersungging senyum yang khas di bibirnya.
Ia mencoba merapikan pakaiannya agar terlihat lebih keren di depan
Berlian.
“Selamat
malam, Bi..” sapa Hangga ramah.
“Malam
Den.... Mbak Lian masih di dalam rumah.. silahkan masuk, biar bibi panggilkan
dulu.” Jawab Bi Inem seraya mempersilahkan Hangga masuk.
“Saya tunggu di luar saja
Bi.. Karena saya juga ingin menatap langit yang begitu indah.”
jawab Hangga.
Bi Inem
hanya mengangguk, lalu kembali masuk ke rumah dan
segera memanggi Berlian.
Setelah
hampir 10 menit menunggu, Berlian keluar dari
rumah dengan senyumnya yang manis.
Ia melambaikan tangannya kepada Hangga. Berlian mengenakan
long dress berwarna biru, dengan dipadu blezer bewarna putih
bergaris hitam serta jilbab bermotif flower berwarna biru. Ia memakai hills berwarna
hitam dengan tinggi kurang lebih 3cm. Wajahnya begitu
natural namun inner beauty nya begitu terlihat karena sejak kecil Berlian
begitu anti kosmetik. Ia hanya menggunakan air wudhu sebagai kosmetiknya dan
memakai bedak setipis mungkin.
“Sudah
lama?” tanya Berlian setelah menghampiri Hangga.
Hangga
hanya diam mematung karena memperhatikan penampilan Berlian yang begitu
sederhana namun terlihat begitu anggun dan menawan.
“Heii
Ngga.. kenapa ngelamun?” tegur Berlian.
“Eh
tidak kok.” jawab Hangga sekenanya, “Mau jalan
kemana nih?” tambahnya lagi
“Terserah
kamu Ngga.” Jawab Berlian singkat.
Berlian
terlihat linglung, ia sama sekali tidak
berkonsentrasi sepenuhnya. Pikirannya masih
melayang jauh entah kemana. Wajahnya
terlihat murung. Namun, Hangga tak menyadari
akan ekspresi wajah Berlian yang tak seperti
biasanya, karena ia sibuk memikirkan tempat yang
cocok untuk kencan mereka. Hangga tidak ingin
melewatkan hari yang spesial ini dengan
percuma. Sudah lama sekali ia tidak
jalan berdua bersama Berlian. Setelah lama
berpikir, akhirnya Hangga menemukan tempat yang
menarik untuk mereka berdua.
“Lian..
kita ke Taman Hiburan saja yuk.” Ajak Hangga begitu semangat.
Berlian
hanya mengangguk pelan, Hangga mempersilahkan Berlian berjalan di depannya
lalu membukakan pintu untuk Berlian.
“Silahkan
Tuan Putri...” kembali Hangga
mengumbar senyumnya yang khas. Tapi Berlian sama
sekali tidak berkata apa-apa. Ia dingin,
nyaris tanpa ekspresi. Hangga mulai merasa
ada yang aneh dalam diri Berlian. Ia
bertanya-tanya dalam hati, apa gerangan
yang terjadi dengan gadis manisnya ini.
Lalu, dengan hati-hati ia mulai bertanya
seraya mengendarai mobilnya dengan tenang
dan santai.
“Lian,
kamu kenapa? Kok diam aja? Gak
biasanya kamu kayak gini.”
“Gak
apa-apaa.” seru Berlian, hanyut dalam lamunannya.
“
Kamu ngelamun? Kenapa? Ada masalah apa?” desak Hangga.
“ Enggak
kok.” jawab Berlian singkat, ia lebih sibuk
dengan pikirannya tanpa memperdulikan Hangga yang
berada di sampingnya. Mungkin tubuhnya berada dalam
mobil
itu, tetapi pikiran dan perasaannya berada jauh di bawah alam sadarnya.
Berlian
adalah gadis yang pertama kali ia
sayangi semenjak masih kanak-kanak. Meskipun
terdengar sedikit tidak wajar, tapi ini
nyata. Ia menyayangi Berlian sejak ia masih
duduk di bangku Sekolah Dasar. Dulu, mereka
sempat menjalin hubungan sejak SMP kelas
VIII. Tetapi hubungan mereka berakhir sejak memasuki masa putih
abu-abu karena Berlian pindah ke kota Bandung.
Hari berganti
dengan begitu cepat, tanpa terasa sudah
tiga tahun mereka berpisah. Hingga akhirnya takdir
mempertemukan mereka kembali ketika mereka telah menjadi
mahasiswa pada universitas yang sama namun fakultas yang berbeda.
Tanpa
terasa mobil Hangga telah terparkir di dalam
parkiran Taman Hiburan. Mereka kemudia berjalan kesana kemari
dan mencoba segala jenis permainan yang ada di Taman Hiburan itu. Untuk
sejenak, Berlian berusaha melupakan segala tekanan batinnya, Ia pun
menikmati kebersamaannya dengan Hangga.
“Mau
ice cream?” tanya Hangga.
“Iya...”
jawab Berlian dengan senyum manisnya yang tersungging di bibir
mungilnya.
“Tunggu
di sini sebentar ya. Aku akan segera datang membawa ice cream
nya untukmu.” Hangga segera membelikan ice cream
rasa coklat kesukaan Berlian. Mereka duduk di sebuah
ayunan. Keduanya tertawa bersama, menikmati malam itu dengan penuh rasa bahagia. Namun, sebenarnya senyum
yang dilontarkan oleh Berlian itu hanyalah topeng. Meskipun ia tersenyum dan
tertawa bahagia, hatinya begitu menyimpan kegelisan dan kesedihan yang sulit
dimengerti maksudnya
Malam
itu, menjadi malam yang indah bagi Hangga.
Namun, Ia tak menyadari bahwa sebenarnya malam itu
akan menjadi neraka baginya. Hangga mengajak Berlian
naik kincir angin, mereka mengantri beberapa
saat, kemudian mulai menaiki kincir angin
yang besar itu. Sesekali ia menatap
gadis itu dengan penuh rasa sayang. Berlian hanya
terpaku melihat tingkah Hangga yang semakin
menyesakkan dadanya. Jantungnya berdetak tak
karuan, antara rasa senang dan kepedihan.
“Tega
kah aku menghancurkan hatinya?” Kata-kata
itu terngiang-ngiang di benak Berlian.
Hatinya berperang dengan pikirannya. Ia tak tahu
harus berbuat apa. Ia melihat Hangga begitu bahagia.
Begitu kejamnya, apabila ia merusak kebahagiaan
itu dan menyuguhkan neraka bagi pemuda itu.
Tapi hatinya pun memberontak pikirannya.
“Hangga
berhak mengetahui ini. Aku gak pantes
buat dia. Kalau aku gak jujur, justru
ini akan membuatnya semakin terluka.
Apabila suatu saat ia mengetahui semua
ini, itu akan lebih menghancurkan hatinya.
Aku harus mengatakan ini..harus! Tak ada
alasan untuk menutupi semua ini lagi.
Ya Allah.. beri aku kekuatan.. berilah
aku kekuatan...” kembali berbagai jenis perkataan
menari-nari di otaknya, antara kejujuran
atau tetap memendam rahasia itu. Pertentangan batin
yang sangat memilukan. Di tengah-tengah
kebimbangannya , ia pun memberanikan diri untuk
membuka pembicaraan. Tapi sebelum ia sempat
berbicara, Hangga sudah memulai pembicaraan
terlebih dahulu.
“Lian..”
tegur Hangga.
“Iya..
Ada apa Ngga?” tanya Berlian disertai detak jantung yang semakin kencang.
“Sejak
kita berpisah aku sudah tak pernh memikirkan seorang wanita lagi. Hatiku
terpaut hanya untukmu. Sampai detik ini aku masih sangat menyayangimu Lian.
Bagaimana dengan kamu? Tolong katakan dengan jujur, apa kamu juga masih
menyayngiku?” tanya Hangga dengan sungguh-sungguh.
“Jujur...
aku juga masih sayang sama kamu. Tapii.......” suara Berlian terhenti.
“Tapi
apa lagi? Kamu dan aku saling sayang kan? Lalu apalagi yang dipermasalhkan
Lian?”
“Sudahlah
lupakan aku, Ngga. Kita tak akan mungkin bersatu.” Kini Berlian mulai
meneteskan air matanya.
“Kenapa?
Apa alasannya? Aku janji Lian akan berusaha untuk membahagiakan dan selalu
menjagamu.” Ucap Hangga dengan pasti.
“Kamu
mau tahu alasannya?” tanya Berlian lirih.
“Iya..”
“Kamu
yakin Ngga?” kembali Berlian mencoba meyakinkan Hangga. Ia menghela nafas
beberapa kali, mencoba menenangkan hati dan perasaannya.
“Tentu..
Aku ingin tahu apa alasan yang membuat kita tak mungkin bersatu.” Jawab Hangga
dengan begitu enteng.
“A..aa..aakkuu
sudah tak suci lagi Ngga.” Suara Berlian terdengar begitu akku dan
terputus-putus.
“Maksud
kamu apa? Aku tak mengerti.” Tanya Hangga dengan serius.
“Aku
sudah kehilangan keperawananku. Aku sudah kotor Ngga.” Jawab Berlian dengan
nafas berat, akhirnya ia berani mengatakan rahasia terbesarnya itu. Ia sudah
tak dapat lagi membendung air matanya. Dibiarkanlah kristal-kristal bening itu
mengalir di pipi chubby nya.
Hangga
hanya diam mematung. Langit terasa runtuh
di kepalanya. Ia tak dapat berkata
apa-apa. Rasanya ia ingin melompat dari
atas kincir angin itu. Tatapannya kosong,
jauh menatap langit yang seakan runtuh
di hadapannya. Ia serasa tersengat listrik
ribuan watt. Gadis yang selama ini ia
sayangi, ia jaga, tak sedikitpun ia
sentuh, jangankan menyentuhnya memeluknya pun
ia belum pernah, kini telah disentuh
orang lain. Direnggut keperawanannya oleh
orang lain. Ia tak mengira bahwa Berlian akan
tega menghancurkan kesuciannya sendiri. Minuman
isotonik yang sedari tadi ia genggam,
ia lempar dan ia buang dari atas kincir
angin sehingga tumpah dan airnya
berceceran. Ingin sekali ia marah, tapi
pada siapa? Ia hanya bisa menelan
kemarahannya sendiri. Lama ia terdiam.
Begitupun Berlian, tak sepatah katapun terlontar
dari mulutnya. Tanpa suara, Berlian hanya mematung, membisu seperti
batu. Hanya airmatanya yang deras
bercucuran membasahi pipi mulusnya.
“Jadi,
ini rahasia terbesar yang pernah kamu katakan ke aku? Ini alasan mengapa kita
tak akan bisa bersatu?” tanya Hangga dengan wajah tanpa ekspresi.
Berlian
hanya mengangguk, ia sesenggukan, nafasnya tersenggal-senggal sehingga ia tak
dapat berbicara dengan normal.
“A..aaa..aaakkuu..
tahu, kamu be..bee..bencii sama aku.. Aku bodoh tak dapat menjaga kesucianku.
Aku memang tak pantas buat le..lee..leelaakii sepertimu.. aa..aakkuu..
kootoooorrr....” Air matanya semakin deras dan binar matanya mengisyaratkan
sebuah penyesalan dan sakit teramat dalam.
“Lian... Aku sama
sekali gak benci sama kamu. Bagaimanapun kondisi
kamu, mau kamu virgin atau gak.. aku akan
tetap sayang sama kamu.” Hangga memegang pipi Berlian
lalu mengusap air matanya. Ia mencoba menegarkan dirinya. memantapkan hatinya
untuk memilih dia. Meski dalam hatinya menjerit tak terima, namun rasa
sayangnya mengalahkan segala kekecewaannya.
“Ngga..
aku ini gak pantes buat kamu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik
dari aku. Kamu pantas mendaptkan wanita yang suci, sama seperti dirimu. Aku
kotor Ngga.. aku telah melakukan dosa terbesar, aku sudah berzina.. Aku yakin
kamu pasti lebih tahu bagaimana presepsi orang terhadap perempuan yang tak bisa
menjaga kehormatannya pasti akan dianggap sampah, tak berguna, dianggap sebagai
perempuan yang kotor,hina, nista dan tentu saja berdosa. Bukan hanya di hadapan
manusia, tapi juga di hadapan Allah. Kamu tak pantas menyayangi wanita kotor
seperti diriku..” Air mata Berlian semakin menders. Ia semakin sesenggukan
tatkala mengingat semua kesalahan terbesarnya.
“Lihat aku
Lian? Lihat! Apa mata ini bohong sama
kamu? Aku sayang kamu karena Allah.
Rasa sayang ini bukan main-main. Aku
sayang sama kamu tulus karena Allah, gak
ada embel-embel apapun. Aku gak peduli
seburuk apapun masa lalu kamu yang jelas di
mataku, kamu tetap wanita paling istimewa
dalam hati aku, kamu tetap wanita yang memiliki masa depan yang
indah dan tentu saja masih suci.” Ucap Hangga yang tak terasa juga meneteskan
air matanya.
“Gak
Ngga.. Tetap saja aku tak pantas untukmu. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu.”
“Ya
Allah Lian.. kebahagiaanku itu kamu. Hanya kamu yang aku sayang. Tak peduli
seburuk dan sehina apapun dirimu , tapi di mataku kamu tetap suci. Tolong, beri
aku kesempatan untuk membahagiakan kamu.” Hangga mulai memelas kepada Berlian.
“Masalah
ini tak semudah membalikkan telapak tangan... Mungkin kamu bisa menerima aku.
Tapi, bagaimana dengan keluarga kamu? Dan orang-orang di sekitar kamu, belum
tentu mereka juga mau menerima aku.”
“Memang,
orang lain bakal tahu tentang semua ini? Gak kan? Keluargaku gak perlu tahu
tentang semua ini, karena yang ngejalanin nantinya kita. Cukup aku yang tahu
tentang semua ini, keluargaku tak perlu. Aku menerima kamu apa adanya Lian..”
Hangga berusaha menegaskan keyakinanya pada Berlian. Ia sama sekali tak peduli
dengan masa lalu Berlian, karena baginya berkata jujur tentang masalah itu
begitu sulit, dan Berlian mampu melakukannya. Selama ini Berlian juga selalu memperlihatkan
perubahannya. Berlian semakin menjadi muslimah yang sholehah. Berlian
benar-benar mampu belajar dari kesalahannya di masa lalu. Dari sisi itulah
Hangga memandang kalau Berlian adalah wanita yang baik.Sungguh, Hangga sangat
menyayangi wanita itu.
“Ngaa..
Sebuah pernikahan bukan hanya menyatukan
dua insan yang saling menyayangi, tetapi
juga menyatukan dua keluarga yang berbeda.
Kamu bakal nyesel dengan keputusan ini,
udah lebih baik kamu tinggalin aku!
Masih banyak wanita yang lebih segalanya
dari aku. Perjalanan hidupmu masih panjang, mungkin
sekarang kamu bisa ngomong kayak gini..
tapi nanti? Siapa yang tahu? Karena hati tk
selamanya akan lurus terus. Mungkin saja suatu saat
nanti, kamu akan berubah pikiran. Tak
ada satupun laki-laki yang rela dan
ridho calon istrinya telah dijamah orang
lain. Dan aku yakin kamu pun
demikian. Meskipun sekarang kamu bilang
kamu mau nerima aku apa adanya, aku
yakin dalam hati kamu.. kamu tetap
sakit. Dan luka yang aku toreh di
hati kamu akan selamanya menjadi luka
yang akan terus menganga. Tanpa tahu
kapan luka itu akan sembuh.” terang Berlian pada
Hangga.
“Apa
arti pernikahan itu jika hanya diukur dari
sebuah keperawanan? Hanya diukur untuk menyalurkan
kepuasan seks semata? Lian.. Aku pilih kamu
sebagai pilihan hati aku bukan hanya
untuk menyalurkan nafsu seks. Tapi aku butuh
seorang pendamping yang membuat aku merasa
nyaman, tentram dan bahagia secara lahir
maupun batin. Dan semua itu aku dapat
dari kamu. Aku tidak menginginkan
pernikahan yang berakhir dengan perceraian.
Aku ingin kamu satu-satunya pendamping
hidup aku dari awal sampai akhir
hidup aku. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya istriku di dunia
maupun di akhirat. Lian.. jujur.. aku sangat kecewa...
Tapi menilai kamu dari perawan atau gaknya,
itu hanyalah menilai tanpa memahami. Dan kalau
aku harus ninggalin kamu karena hal itu, terkesan
seolah-olah kamu hanya bisa dinilai buruk
dan jelek dari satu kesalahan saja
yaitu karena keperawanan kamu yang sudah
direnggut laki-laki brengsek itu. Seolah-olah
cinta dan rasa sayang hanyalah tentang
kepuasan malam pertama, seolah cinta bukan
tentang menjalani kehidupan yang lebih
sakral.. karena pernikahan itu bukan
dijalani satu atau dua hari..tapi untuk
dijalani selama kita hidup sampai Allah
memanggil salah satu di antara kita.
Kalau ngomong tentang kejujuran... Aku
kecewa.... ya aku kecewa.. aku kaget
dan bener-bener kecewa sama kamu, tapi
kenyataannya rasa sayang aku lebih besar
daripada rasa kecewa aku sama kamu....dan
sampai detik ini perasaan aku sama
sekali gak berubah buat kamu. Aku
tetep sayang sama kamu....” Hangga tak kuasa
menahan tangisnya.. lelehan air hangat itu,
bercucuran membasahi pipinya.
“
Hidup kita masih panjang Ngga. Kamu masih semester 5 sedangkan aku baru
semester 4. Jangan dulu membicarakan tentang
pernikahan. Masih banyak waktu. Aku takut
suatu saat nanti perasaan kamu akan
berubah. Dan aku pun gak mau kamu
menyesal pada akhirnya. Pikirkanlah semua
dengan matang. Jangan hanya satu atau
dua bulan. Tetapi pikirkan dengan jangka
waktu yang panjang. Untuk ke jenjang
pernikahan, aku rasa waktu kita masih
panjang. Kuliah saja belum selesai. Kamu kerja saja masih kerja di
perusahaan orang tuamu. Aku rasa pernikahan itu
kita nomor akhirkan dulu, lebih baik kita
sama-sama fokus dengan apa yang kita
rencanakan untuk masa depan kita. INSYA
ALLAH.... Allah akan memberikan yang
terbaik untuk kita. Yakinlah akan kebesaran-Nya.
Allah Maha Mengetahui, ia tahu apa
yang terbaik untuk kita. Aku sadar..
aku sudah melakukan dosa yang amat fatal,
bahkan belum tentu Allah mau mengampuni
segala kesalahan aku.. Tapi semaksimal mungkin, di sisa umurku
ini aakan kupergunakan hanya untuk mencintai Allah. Yakin saja..
kalau aku tulang rusuk kamu, mau kita
berpisah berapa tahun pun pasti Allah
akan mempertemukan kita kembali. Tetapi
kalau aku bukan tulang rusuk kamu,
mau kita bertahan bertahun-tahun pun kita
pasti akan berpisah juga. Karena tak
ada seorangpun di dunia ini yang tahu
siapa jodoh yang Allah tetapkan untuk
kita. Kita juga masih sama-sama labil,
jadi lebih baik kamu fikirkan matang-matang
dengan keputusan ini. Bukannya aku
meragukan rasa sayang kamu buat aku..
tapi aku akan semakin merasa bersalah,
kalau aku tetap membiarkan kamu menyayangi
aku....” Berlian kembali mengeluarkan cairan
bening dimatanya, ia semakin bingung.
Apakah Hangga hanya terbutakan cinta sebagai
perasaan dan dibutakan oleh rasa sayang,
ataukah ia sudah begitu dewasa sehingga
keputusan batin untuk tidak meninggalkan
dirinya benar-benar tulus dan memang tidak
tergoyahkan... Jadi Hangga menerima Berlian apa
adanya? Ah... entahlah apakah itu sebuah
ketulusan atau hanya obsesi sesaat. Berlian benar-benar
tidak tahu. Otaknya benar-benar buntu.
Pada
awalnya ia berharap dengan kejujuran ini Hangga
dapat melepaskan dan melupakannya karena ia
memang tidak pantas untuk Hangga. Alangkah
naifnya ia apabila ia tega menoreh
luka berkepanjangan di hati pemuda baik itu.
Tapi ternyata, persepsinya salah besar, Hangga
sama sekali tidak peduli dengan
kejujurannya. Hangga tetap bersikeras untuk serius
dengannya, dan ingin memperistrinya. Walaupun kini
Hangga mengetahui bahwa dirinya sudah tidak
virgin lagi, itu sama sekali tidak
mengubah pendiriannya. Airmata Berlian mengalir semakin
deras, kini airmatanya bercampur dengan
perasaan senang, bahagia, juga tertekan.
Satu sisi, ia sangat bahagia karena
masih ada lelaki suci yang berhati tulus
seperti Hangga yang masih mau menerima
perempuan kotor seperti dirinya. Sisi lain,
ia pun tertekan dengan rasa bersalahnya
kepada Allah, Hangga dan dirinya sendiri karena
tak dapat menjaga kehormatannya.
Hangga
mulai meraih Berlian di pelukannya, untuk
pertama kalinya Hangga memeluk Berlian. Ia memeluknya
dengan penuh kasih sayang, ia mencium
rambut Berlian yang tertutup oleh jilbab seraya menitikkan
airmatanya. Rasanya ia tak mau melepaskan Berlian
dari pelukannya. Ia memeluk Berlian sangat
erat. Dekapan hangat itu membuat Berlian
semakin hancur. Hatinya serasa disayat-sayat
seribu pisau.
“Lian..Aku
sayang kamu karena Allah. Aku akan
menunggu kamu sampai kamu mengerti bahwa
aku benar-benar tulus menyayangi kamu. Aku
akan terus meyakinkan dan memperjuangkanmu. Aku benar-benar
yakin ingin menjadikanmu sebagai istri dunia dan akhiratku. Setelah
aku sukses dengan keringatku sendiri tanpa
sedikitpun harta dari orangtuaku, aku akan datang
melamar kamu. Beri aku kesempatan bahwa aku
layak untuk kamu dan pantas untuk
kamu. Aku tekankan sekali lagi, aku
butuh pendamping hidup bukan pemuas hasrat! Dan
aku tidak peduli dengan kondisi kamu.
Terserah apapun persepsi orang lain tentang
kamu. Yang jelas.. kamu tetap menjadi
perempuan paling istimewa di hidupku... Aku
tetep sayang sama kamu.. Lian... aku
akan selalu menyayangi kamu disaat tak
ada satu orangpun di dunia ini yang
menyayangi kamu...” Bisik Hangga lembut, cucuran
air hangat meleleh-leleh di pipinya.
Kalimat-kalimat itu membuat airmata Berlian
mengalir semakin deras. Tiba-tiba Berlian melepaskan
tubuhnya dalam pelukan Hangga, hal itu
sontak membuat Hangga terhenyak.
“Lepaskan
aku. Apa-apaan kamu, malah memelukku begitu lama.” Bentaknya kasar.
“Astaghfirullah
maaf, aku khilaf.” Jawabnya dengan takut.
“Aku
mau pulang..” Hanya kata-kata itu yang
terlontar dari mulut Berlian, selebihnya ia
hanya menghapus tetesan airmatanya dengan kedua
tangannya.
“Iya..
sebentar lagi kincir ini berhenti.” Jawab Hangga
lirih, seraya menghapus sisa-sisa airmata
disela-sela bulu matanya. Kembali ia
menatap Berlian dengan penuh kesedihan. Gadis itu,
tetap menjadi wanita yang spesial di
hatinya. Tak ada perubahan meskipun
kejujuran itu menghancurkan hatinya.
Kincir
itu berhenti, Berlian dan Hangga turun dengan
hati yang diliputi kekacauan. Keduanya tak
berbicara apa-apa lagi. Mereka sibuk dengan
pikirannya masing-masing. Di perjalanan, mereka
lebih banyak diam. Hangga mengemudikan
mobilnya dengan setengah melamun, tapi
ia berusaha agar tetap berkonsentrasi
untuk menjaga keselamatan dirinya dan Berlian. Sedangkan Berlian,
ia hanya melamun. Tatapannya kosong.
Sekosong pikiran dan hatinya. Dunia terasa
berhenti bagi keduanya, tak ada yang
tersisa. Waktu pun terasa mati. Detak
jantung seakan berhenti. Begitupun hati
keduanya. Mati. Terhempas dan hilang
ditembus angin.
Sesampainya
di depan gerbang rumah Berlian, Hangga
mengantar Berian ke dalam. Tak ada sepatah katapun yang keluar
dari mulut Berlian, ia seperti patung hidup.
“Selamat
malam Om..Tante.. maaf Hangga membawa Berlian
hingga larut malam.” Sapa Hangga seraya
memohon maaf kepada kedua orangtua Berlian.
“Iya..tak
apa-apa Ngga. Terima kasih sudah mengantar Lian
pulang..” Sahut Papa Berlian ramah.
“Kalau
begitu.. Hangga pamit pulang Om..Tante...”
“Tidak
mampir dulu? Mari masuk...” Ajak Mama Berlian.
“Mkasih
Tante, tapi ini sudah larut malam. Hangga
pulang dulu Om, Tante.. Assalamualaikum...”
Hangga
segera masuk ke dalam mobil. Ia
langsung menancap gas dengan kecepatan
tinggi. Ia mengemudi sambil menangis. Ia
menangis sejadi-jadinya, menangisi gadis yang
paling ia sayangi. Pikirannya melayang jauh
melesat bagaikan komet yang jatuh dari
langit. Setengah kesadarannya hilang. Nyawanya
seakan melayang. Ia berhenti di sebuah
tempat yang sepi. Lama ia terpaku
menatap jutaan cahaya lampu yang menerangi
malam yang kian larut. Ia menatap
sampai matanya terasa berkunang-kunang dan
kembali ia menumpahkan airmatanya. Menumpahkan
segala kekecewaan hatinya. Ia menangis
sampai tak dapat berbicara apapun. Lama ia
diam di tempat itu. Ia keluar dari
mobil dan berteriak sekencang-kencangnya...
“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrggggghhhhhhh............................Liaannnn...
teganya kamu kepada diriku dan diri kamu
sendiri................... Mengapa kamu tak mau memberiku kesempatan,
padahal sudah jelas kita saling menyayangi. Tak bisakah kamu
melihat kejujuran dan ketulusan hatiku,
Liann?? sebejad-bejadnya aku... seberengsek-berengseknya
aku, aku sama sekali tak pernah
menyentuhmu apalagi menggaulimu Liann... karena aku
sayang sama kamu. Aku sayang kamu
karena Allah dan aku akan tetap
menunggu kamu Liann....!! Aku akan
membuktikan kalau aku benar-benar tulus
menyayangi kamu.........Aku gak perduli dengan
kondisi kamu! Insya Allah aku akan tetep melamar
kamu Lian.. please tunggu aku Lian..
Setelah wisuda, aku pasti sukses lalu aku akan datang melamarmu.
Aku benar-benar menyayangi kamuuu tanpa embel-embel apapun..........”
Teriakan
itu parau diselingi isak tangis. Hangga
bersandar di samping mobil itu. Terduduk
lemas di tengah-tengah kepedihan hatinya.
Bayang-bayang wajah Berlian semakin membuat
hatinya sakit dan terluka. Matanya terasa
pedas, lelehan air hangat itu membasahi
wajah tirusnya. Airmata itu adalah airmata
ketulusan. Airmata yang menaruh sebuah harapan
pada sosok wanita yang disayangnya J
Sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar