Jumat, 28 November 2014

Secercah ketulusan


Coretan ini kupersembahkan untuk sosok lelaki yang sedang memperjuangkan cinta dan kesuksesannya. Semoga dia segera menyelesaikan S1 nya, menjadi arsitek andalan perusahaannya, membangun rumah impian yang sesuai dengan desain nya sendiri lalu membangun rumah tangga bersama wanita yang disayangnya J



Hari  ini  matahari  enggan  menampakkan  sinarnya,  dingin  terasa  menembus  kulit romaku.  Hujan  mengguyur  pagi  itu  tanpa  henti.  Pagi yang seharusnya menampakkan suasana cerahnya,kini gelap karena awan hitam menghampirinya. Tak  ada  suara  apapun  kecuali  rintik  hujan.  Kabut  putih  dan  tebal  ikut  menyelimuti  pagi  itu.  Dari  jauh  terlihat  sosok  wanita  yang  duduk  di  sudut  kamar seraya memandang rintikan air hujan.  Tatapan  wanita  itu  tajam  setajam  mata  elang.
Wanita  itu  terduduk  lemas  di  atas  ayunan yang berada di kamarnya.  Ia  bersandar  dengan  wajah  yang  semrawut.  Kesalahan  terfatal  yang  pernah  ia  lakukan  adalah  berkata jujur. Kejujuran  itu,  sungguh  menghancurkan  dunianya.  Menghancurkan  segala  harapannya.  Menghancurkan  mimpinya.  Bahkan  juga  menghancurkan  hatinya.  Langit  serasa  runtuh  di  hadapannya.  Tanpa  sadar,  ia  menitikkan  air matanya.  Ia  merasa,  kini  ia  bukanlah  wanita  yang  tegar dan kuat.  Mungkin, saat itu hatinya benar-benar rapuh. Matanya  terlihat sembab  setelah  seharian  menangis  dan  mengurung  diri  di  dalam  kamarnya. 
Tak  ada  yang  berubah  dalam  dirinya,  ia  masih  bertubuh  tinggi  dan  langsing  sama  seperti  saat  ia  masih  duduk  di  bangku  kelas  1  SMA.  Ia  tetap  berkulit  putih,  bermata  bulat,  dengan  alis  tipis  dan  terbentuk,  bibir  tipis  berwarna  merah  alami,  hidung  mancung  dengan  tulang  lunak  lancip,  dan  bentuk  wajah  yang bulat. Saat ini, ia tengah belajar di Universitas Gajah Mada pada semester 5. Gadis manis itu bernama Berlian Permata Sari.
Pikirannya  masih  melayang  jauh  entah  kemana.  Rasa  bersalah,  bahagia,  penyesalan,  tertekan,  kini  memberontak  di  pikirannya.  Ia  seolah  tersesat  dalam  dunianya  dan  tak  tahu  arah  untuk  kembali.  Keadaan  yang  terlanjur  ia  bangun,  kini  sulit  untuk  ia  hancurkan  kembali.  Benteng  itu  telah  berdiri  kokoh,  sekokoh  karang  yang  tak  gontai  dihempas  sang  ombak.  Perdebatan  antara  pikiran  dan  perasaannya  semakin  merasuk pada  tulang  rusuknya  sehingga  menembus  jantungnya.
Ia  memandang  ke  arah  luar  jendela  yang  basah  dipenuhi  embun  dan  cucuran  air  hujan  yang  berjatuhan.  Ia  pun  mulai  menjatuhkan  kristal-kristal  bening  di  matanya.  Bayangan  akan  wajah  Hangga  yang  memelas  dan  menangis  di  hadapannya,  semakin  menghantui  jiwanya.  Airmata  itu,  air  mata  ketulusan.  Airmata  kasih  sayang  yang  menaruh  sebuah  harapan.  Harapan  yang  justru  membuatnya  semakin  merasa  bersalah  dan  tertekan.  Harapan  yang  sewaktu-waktu  dapat  dengan  mudah  ia  hancurkan.  Bukan  karena  tak  sayang,  tetapi  karena  rasa  bersalah  itu  tak  terelakkan.  Perasaan  tidak  pantas,  beradu  dengan  berbagai  jenis  keraguan.  Keraguan  yang  menggerogoti  keyakinannya  secara  perlahan.
Pemberontakan  hatinya  bergulat  seperti  benang  kusut,  yang  sulit  untuk  diurai  kembali.  Ia  bersandar  pada  kursi  seraya  menutup  wajah  dengan  kedua  tangannya.  Ia  menangis  tanpa  suara.  Pikirannya  buntu.  Ia  tak  tahu  harus  bagaimana  sekarang.  Rasanya  hati  dan  perasaannya  beku  seperti  tak  berfungsi  dengan  normal. 

                                                                        ***

Kehancuran  itu  dimulai  dari  sini....
Malam itu sekitar pukul 18.30  WIB,  Berlian  bergulat  dengan  fikirannya  sendiri,  sudah  sejak  lama  ia  ingin  mengungkapkan  sebuah  kejujuran.  Kejujuran  yang  akan  berbuah  menjadi kepahitan.  Ia  sudah  memikirkan  semua  itu dengan  matang,  apapun  yang  akan  terjadi  nanti,  bagaimanapun  resikonya  ia  akan  tetap  mengungkapkannya.  Walau  kejujuran  itu  akan  merobek  hatinya  dan  menusuk  jantungnya. 
Terbesit sedikit keinginan agar kejujuran itu dapat melepaskannya dalam dilema yang berkepanjangan agar Hangga segera menghapus Berlian dari hatinya. Meski sebenarnya hatinya memberontak saat Berlian berniat melepaskan Hangga karena Berlian sangat menyayangi Hangga. Tapi kejujuran itu memaksanya untuk melepas Hangga, melepaskan rasa sayangnya untuk Hangga, mengorbankan perasaannya demi kebahagiaan Hangga yang tak seharusnya ia renggut, dan mungkin yang tersisn hanyalah rasa sakit yang menghujam jantungnya. Berlian segera meraih handphonenya dan mengetik sebuah pesan untuk Hangga.
 “Ngga... aku  pengen  ketemu kamu. Kamu jemput aku ya jam 18.00.. aku  tunggu di rumah sekarang! ”Berlian segera mengirim pesan singkat itu kepada  Hangga. 
Status  hubungan mereka begitu  tidak  jelas. Dikatakan  kekasih,  mereka  sama  sekali  tidak  pernah  menjalin  hubungan.  Dikatakan  teman,  hubungan  mereka  lebih  dari  sekedar  teman.  Bahkan  lebih  dari  kekasih!  Mereka  saling  menyayangi  meski  berulang  kali  hati  mereka  menolak  perasaan  itu.  Hati  mereka  telah  terikat  sejak  mereka  masih kanak-kanak. Tanpa  mereka  sadari  perasaan  itu  muncul  begitu  saja  dan tak seorangpun dari  keduanya  dapat  menolak perasaan itu.  Rasa  sayang  itu  semakin tumbuh  seiring  berjalannya  waktu  hingga  mereka  dewasa,  dan  semakin  lama  perasaan  sayang  itu  semakin  ­­­­­­­­­­­­besar  sehingga  tak  dapat  ditahan  lagi.  Rasa  sayang  itu  bersemayam di  dalam  dada  mereka  meskipun  Berlian  begitu menolak  keras  perasaan  itu.  Ia  sama  sekali  tidak  menginginkan  perasaan  itu ada,  bukan  karena  tidak  menyukai  atau  tidak  menyayangi Hangga.  Tetapi  karena  ia  memendam  sebuah  rahasia besar yang dapat menghancurkan dirinya ataupun Hangga.
Perasaan  Berlian begitu  besar  terhadap  Hangga,  tiada  keraguan sedikitpun dalam benak Berlian. Hatinya  bening,  sebening  air  di  lautan  luas.  Putih,  seputih  salju.  Namun,  ketulusan  itu  terhempas  oleh  segala  perasaan  tertekan yang  bergumul  di  hatinya.  Hatinya  diombang-ambing  oleh  perasaannya.  Hatinya  ditarik  kesana  kemari  layaknya  tali  yang  ditarik  berlawanan  arah  sehingga  hatinya  semakin  mendekati  kehancuran  yang  memilukan.
“Tiiiit...  tiiiit....” Sebuah  mobil  jazz  berwarna  merah  terparkir  di  depan  gerbang  rumah Berlian.  Bi Inem pengasuh Berlian sejak  kecil  langsung  membukakan  gerbang  untuk  Hangga. Wajahnya begitu berseri-seri, tersungging  senyum  yang  khas  di  bibirnya.  Ia  mencoba  merapikan pakaiannya agar terlihat lebih keren di depan Berlian.
“Selamat  malam,  Bi..” sapa Hangga ramah.
“Malam Den.... Mbak Lian masih di dalam rumah.. silahkan masuk, biar bibi panggilkan dulu.” Jawab Bi Inem seraya mempersilahkan Hangga masuk.
 “Saya tunggu di luar  saja  Bi..  Karena saya juga ingin menatap langit yang begitu indah.” jawab Hangga.
Bi Inem hanya mengangguk, lalu  kembali  masuk  ke  rumah dan segera memanggi Berlian. 
Setelah  hampir  10  menit  menunggu,  Berlian keluar dari  rumah  dengan  senyumnya  yang  manis. Ia melambaikan tangannya kepada Hangga. Berlian mengenakan  long dress  berwarna  biru,  dengan dipadu blezer bewarna putih bergaris hitam serta jilbab bermotif flower berwarna biru. Ia memakai hills berwarna hitam dengan  tinggi  kurang  lebih  3cm. Wajahnya begitu natural namun inner beauty nya begitu terlihat karena sejak kecil Berlian begitu anti kosmetik. Ia hanya menggunakan air wudhu sebagai kosmetiknya dan memakai bedak setipis mungkin.
“Sudah lama?”  tanya Berlian  setelah  menghampiri Hangga.
Hangga hanya diam mematung karena memperhatikan penampilan Berlian yang begitu sederhana namun terlihat begitu anggun dan menawan.
“Heii Ngga.. kenapa ngelamun?” tegur Berlian.
“Eh tidak kok.” jawab Hangga sekenanya,  “Mau  jalan  kemana  nih?” tambahnya  lagi
“Terserah kamu Ngga.” Jawab Berlian singkat.
Berlian terlihat  linglung,  ia  sama  sekali  tidak  berkonsentrasi  sepenuhnya.  Pikirannya  masih  melayang  jauh  entah  kemana.  Wajahnya  terlihat  murung.  Namun,  Hangga tak  menyadari  akan  ekspresi  wajah Berlian yang tak seperti biasanya, karena ia sibuk  memikirkan  tempat  yang  cocok  untuk kencan mereka. Hangga tidak  ingin  melewatkan  hari  yang  spesial  ini  dengan  percuma.  Sudah  lama  sekali  ia  tidak  jalan  berdua  bersama  Berlian. Setelah  lama  berpikir,  akhirnya Hangga menemukan  tempat  yang  menarik  untuk mereka berdua.
“Lian.. kita ke Taman  Hiburan saja yuk.”  Ajak Hangga begitu semangat.
Berlian hanya mengangguk pelan, Hangga mempersilahkan Berlian berjalan di depannya lalu membukakan pintu untuk Berlian.
Silahkan  Tuan  Putri...” kembali Hangga mengumbar senyumnya yang khas.  Tapi  Berlian sama  sekali  tidak  berkata  apa-apa.  Ia  dingin,  nyaris  tanpa  ekspresi. Hangga mulai  merasa  ada  yang  aneh  dalam  diri Berlian.  Ia  bertanya-tanya  dalam  hati,  apa  gerangan  yang  terjadi  dengan  gadis  manisnya  ini.  Lalu,  dengan  hati-hati  ia  mulai  bertanya  seraya  mengendarai  mobilnya  dengan  tenang  dan  santai.
“Lian,  kamu  kenapa?  Kok  diam  aja?  Gak  biasanya  kamu  kayak  gini.”
“Gak apa-apaa.” seru Berlian, hanyut dalam lamunannya.
“ Kamu ngelamun?  Kenapa?  Ada masalah apa?” desak Hangga.
“ Enggak  kok.”  jawab Berlian singkat,  ia  lebih  sibuk  dengan  pikirannya  tanpa  memperdulikan Hangga yang berada di sampingnya. Mungkin tubuhnya berada dalam  mobil itu, tetapi pikiran dan perasaannya berada jauh di bawah alam sadarnya.
Berlian  adalah  gadis  yang  pertama  kali  ia  sayangi  semenjak  masih  kanak-kanak.  Meskipun  terdengar  sedikit  tidak  wajar,  tapi  ini  nyata. Ia  menyayangi Berlian sejak  ia  masih  duduk  di  bangku  Sekolah  Dasar.  Dulu,  mereka  sempat  menjalin  hubungan  sejak  SMP  kelas  VIII.  Tetapi  hubungan mereka berakhir sejak memasuki masa putih abu-abu karena Berlian pindah  ke kota Bandung. Hari  berganti  dengan  begitu  cepat,  tanpa  terasa  sudah  tiga  tahun mereka berpisah. Hingga  akhirnya  takdir  mempertemukan  mereka  kembali  ketika mereka telah menjadi mahasiswa pada universitas yang sama namun fakultas yang berbeda.
Tanpa  terasa  mobil  Hangga telah  terparkir  di  dalam  parkiran  Taman  Hiburan. Mereka kemudia berjalan kesana kemari dan mencoba segala jenis permainan yang ada di Taman Hiburan itu. Untuk  sejenak, Berlian berusaha melupakan segala tekanan batinnya, Ia pun menikmati kebersamaannya dengan Hangga.
“Mau  ice  cream?”  tanya Hangga.
“Iya...”  jawab Berlian dengan  senyum manisnya yang tersungging di bibir mungilnya.
“Tunggu  di  sini  sebentar  ya. Aku akan segera datang membawa ice cream nya untukmu.” Hangga segera  membelikan  ice  cream  rasa  coklat  kesukaan Berlian. Mereka duduk di sebuah ayunan. Keduanya tertawa bersama, menikmati malam itu dengan penuh rasa bahagia. Namun, sebenarnya senyum yang dilontarkan oleh Berlian itu hanyalah topeng. Meskipun ia tersenyum dan tertawa bahagia, hatinya begitu menyimpan kegelisan dan kesedihan yang sulit dimengerti maksudnya
Malam  itu,  menjadi  malam  yang  indah  bagi Hangga. Namun, Ia  tak  menyadari bahwa sebenarnya malam  itu  akan  menjadi  neraka  baginya. Hangga mengajak  Berlian naik  kincir angin,  mereka  mengantri  beberapa  saat,  kemudian  mulai  menaiki  kincir  angin  yang  besar  itu.  Sesekali  ia  menatap  gadis  itu  dengan  penuh  rasa  sayang. Berlian hanya  terpaku  melihat  tingkah Hangga yang  semakin  menyesakkan  dadanya.  Jantungnya  berdetak  tak  karuan,  antara  rasa  senang  dan  kepedihan.
“Tega  kah  aku  menghancurkan  hatinya?” Kata-kata  itu  terngiang-ngiang di  benak Berlian. Hatinya berperang dengan  pikirannya. Ia  tak  tahu  harus  berbuat  apa. Ia melihat Hangga begitu bahagia. Begitu  kejamnya, apabila  ia  merusak  kebahagiaan  itu dan  menyuguhkan  neraka  bagi  pemuda  itu.  Tapi  hatinya  pun  memberontak  pikirannya.
“Hangga berhak  mengetahui  ini.  Aku  gak  pantes  buat  dia.  Kalau  aku  gak  jujur,  justru  ini  akan  membuatnya  semakin  terluka.  Apabila  suatu  saat  ia  mengetahui  semua  ini,  itu  akan  lebih  menghancurkan  hatinya.  Aku  harus  mengatakan  ini..harus!  Tak  ada  alasan  untuk  menutupi  semua  ini  lagi.  Ya  Allah..  beri  aku  kekuatan..  berilah  aku  kekuatan...” kembali  berbagai  jenis  perkataan  menari-nari  di  otaknya,  antara  kejujuran  atau  tetap  memendam  rahasia  itu.  Pertentangan batin  yang  sangat  memilukan. Di  tengah-tengah  kebimbangannya , ia  pun  memberanikan  diri untuk  membuka  pembicaraan.  Tapi  sebelum  ia  sempat  berbicara,  Hangga sudah  memulai  pembicaraan  terlebih  dahulu.
“Lian..” tegur Hangga.
“Iya.. Ada apa Ngga?” tanya Berlian disertai detak jantung yang semakin kencang.
“Sejak kita berpisah aku sudah tak pernh memikirkan seorang wanita lagi. Hatiku terpaut hanya untukmu. Sampai detik ini aku masih sangat menyayangimu Lian. Bagaimana dengan kamu? Tolong katakan dengan jujur, apa kamu juga masih menyayngiku?” tanya Hangga dengan sungguh-sungguh.
“Jujur... aku juga masih sayang sama kamu. Tapii.......” suara Berlian terhenti.
“Tapi apa lagi? Kamu dan aku saling sayang kan? Lalu apalagi yang dipermasalhkan Lian?”
“Sudahlah lupakan aku, Ngga. Kita tak akan mungkin bersatu.” Kini Berlian mulai meneteskan air matanya.
“Kenapa? Apa alasannya? Aku janji Lian akan berusaha untuk membahagiakan dan selalu menjagamu.” Ucap Hangga dengan pasti.
“Kamu mau tahu alasannya?” tanya Berlian lirih.
“Iya..”
“Kamu yakin Ngga?” kembali Berlian mencoba meyakinkan Hangga. Ia menghela nafas beberapa kali, mencoba menenangkan hati dan perasaannya.
“Tentu.. Aku ingin tahu apa alasan yang membuat kita tak mungkin bersatu.” Jawab Hangga dengan begitu enteng.
“A..aa..aakkuu sudah tak suci lagi Ngga.” Suara Berlian terdengar begitu akku dan terputus-putus.
“Maksud kamu apa? Aku tak mengerti.” Tanya Hangga dengan serius.
“Aku sudah kehilangan keperawananku. Aku sudah kotor Ngga.” Jawab Berlian dengan nafas berat, akhirnya ia berani mengatakan rahasia terbesarnya itu. Ia sudah tak dapat lagi membendung air matanya. Dibiarkanlah kristal-kristal bening itu mengalir di pipi chubby nya.
Hangga hanya  diam mematung.  Langit  terasa  runtuh  di  kepalanya.  Ia  tak  dapat  berkata  apa-apa.  Rasanya  ia  ingin  melompat  dari  atas  kincir  angin  itu.  Tatapannya  kosong,  jauh  menatap  langit  yang  seakan  runtuh  di  hadapannya.  Ia  serasa  tersengat  listrik  ribuan  watt.  Gadis  yang  selama  ini  ia  sayangi,  ia  jaga,  tak  sedikitpun  ia  sentuh,  jangankan  menyentuhnya  memeluknya  pun  ia  belum  pernah,  kini  telah  disentuh  orang  lain.  Direnggut  keperawanannya  oleh  orang  lain.  Ia  tak  mengira  bahwa  Berlian akan  tega  menghancurkan  kesuciannya sendiri.  Minuman  isotonik  yang  sedari  tadi  ia  genggam,  ia  lempar  dan  ia  buang  dari atas  kincir  angin  sehingga  tumpah  dan  airnya  berceceran.  Ingin  sekali  ia  marah,  tapi  pada  siapa?  Ia  hanya  bisa  menelan  kemarahannya  sendiri.  Lama  ia  terdiam.  Begitupun Berlian, tak  sepatah  katapun  terlontar  dari  mulutnya.  Tanpa suara, Berlian hanya mematung, membisu seperti batu.  Hanya  airmatanya  yang  deras  bercucuran  membasahi  pipi  mulusnya.
“Jadi, ini rahasia terbesar yang pernah kamu katakan ke aku? Ini alasan mengapa kita tak akan bisa bersatu?” tanya Hangga dengan wajah tanpa ekspresi.
Berlian hanya mengangguk, ia sesenggukan, nafasnya tersenggal-senggal sehingga ia tak dapat berbicara dengan normal.
“A..aaa..aaakkuu.. tahu, kamu be..bee..bencii sama aku.. Aku bodoh tak dapat menjaga kesucianku. Aku memang tak pantas buat le..lee..leelaakii sepertimu.. aa..aakkuu.. kootoooorrr....” Air matanya semakin deras dan binar matanya mengisyaratkan sebuah penyesalan dan sakit teramat dalam.
 “Lian...  Aku  sama  sekali  gak  benci  sama  kamu.  Bagaimanapun kondisi  kamu,  mau  kamu  virgin  atau  gak..  aku  akan tetap  sayang  sama  kamu.” Hangga memegang pipi Berlian lalu mengusap air matanya. Ia mencoba menegarkan dirinya. memantapkan hatinya untuk memilih dia. Meski dalam hatinya menjerit tak terima, namun rasa sayangnya mengalahkan segala kekecewaannya.
“Ngga.. aku ini gak pantes buat kamu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku. Kamu pantas mendaptkan wanita yang suci, sama seperti dirimu. Aku kotor Ngga.. aku telah melakukan dosa terbesar, aku sudah berzina.. Aku yakin kamu pasti lebih tahu bagaimana presepsi orang terhadap perempuan yang tak bisa menjaga kehormatannya pasti akan dianggap sampah, tak berguna, dianggap sebagai perempuan yang kotor,hina, nista dan tentu saja berdosa. Bukan hanya di hadapan manusia, tapi juga di hadapan Allah. Kamu tak pantas menyayangi wanita kotor seperti diriku..” Air mata Berlian semakin menders. Ia semakin sesenggukan tatkala mengingat semua kesalahan terbesarnya.
“Lihat aku Lian?  Lihat!  Apa  mata  ini  bohong  sama  kamu?  Aku  sayang  kamu  karena  Allah.  Rasa  sayang  ini  bukan  main-main.  Aku  sayang  sama  kamu  tulus  karena  Allah,  gak  ada  embel-embel  apapun.  Aku  gak  peduli  seburuk  apapun masa lalu kamu  yang  jelas  di  mataku,  kamu  tetap wanita paling  istimewa  dalam  hati  aku, kamu tetap wanita yang memiliki masa depan yang indah dan tentu saja masih suci.” Ucap Hangga yang tak terasa juga meneteskan air matanya.
“Gak Ngga.. Tetap saja aku tak pantas untukmu. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaanmu.”
“Ya Allah Lian.. kebahagiaanku itu kamu. Hanya kamu yang aku sayang. Tak peduli seburuk dan sehina apapun dirimu , tapi di mataku kamu tetap suci. Tolong, beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu.” Hangga mulai memelas kepada Berlian.
“Masalah ini tak semudah membalikkan telapak tangan... Mungkin kamu bisa menerima aku. Tapi, bagaimana dengan keluarga kamu? Dan orang-orang di sekitar kamu, belum tentu mereka juga mau menerima aku.”
“Memang, orang lain bakal tahu tentang semua ini? Gak kan? Keluargaku gak perlu tahu tentang semua ini, karena yang ngejalanin nantinya kita. Cukup aku yang tahu tentang semua ini, keluargaku tak perlu. Aku menerima kamu apa adanya Lian..” Hangga berusaha menegaskan keyakinanya pada Berlian. Ia sama sekali tak peduli dengan masa lalu Berlian, karena baginya berkata jujur tentang masalah itu begitu sulit, dan Berlian mampu melakukannya. Selama ini Berlian juga selalu memperlihatkan perubahannya. Berlian semakin menjadi muslimah yang sholehah. Berlian benar-benar mampu belajar dari kesalahannya di masa lalu. Dari sisi itulah Hangga memandang kalau Berlian adalah wanita yang baik.Sungguh, Hangga sangat menyayangi wanita itu.
“Ngaa.. Sebuah  pernikahan  bukan  hanya  menyatukan  dua  insan  yang  saling  menyayangi,  tetapi  juga  menyatukan  dua  keluarga  yang  berbeda.  Kamu  bakal  nyesel  dengan  keputusan  ini,  udah  lebih  baik  kamu  tinggalin  aku!  Masih  banyak  wanita yang  lebih  segalanya  dari  aku. Perjalanan hidupmu masih panjang, mungkin  sekarang  kamu  bisa  ngomong  kayak  gini..  tapi  nanti?  Siapa  yang  tahu? Karena hati tk selamanya akan lurus terus. Mungkin saja suatu  saat  nanti,  kamu  akan  berubah  pikiran.  Tak  ada  satupun  laki-laki  yang  rela  dan  ridho  calon  istrinya  telah  dijamah  orang  lain.  Dan  aku  yakin  kamu  pun  demikian.  Meskipun  sekarang  kamu  bilang  kamu  mau  nerima  aku  apa  adanya,  aku  yakin  dalam  hati  kamu..  kamu  tetap  sakit.  Dan  luka  yang  aku  toreh  di  hati  kamu  akan  selamanya  menjadi  luka  yang  akan  terus  menganga.  Tanpa  tahu  kapan  luka  itu  akan  sembuh.” terang Berlian pada Hangga.
“Apa  arti  pernikahan  itu jika hanya  diukur  dari  sebuah  keperawanan?  Hanya  diukur  untuk  menyalurkan  kepuasan  seks  semata? Lian.. Aku  pilih  kamu  sebagai  pilihan  hati  aku  bukan  hanya  untuk  menyalurkan  nafsu  seks.  Tapi  aku butuh seorang pendamping  yang  membuat  aku  merasa  nyaman,  tentram  dan  bahagia secara lahir  maupun  batin.  Dan  semua  itu  aku  dapat  dari  kamu.  Aku  tidak  menginginkan  pernikahan  yang  berakhir  dengan  perceraian.  Aku  ingin  kamu  satu-satunya  pendamping  hidup  aku  dari  awal  sampai  akhir  hidup  aku. Aku ingin menjadikanmu satu-satunya istriku di dunia maupun di akhirat. Lian..   jujur.. aku sangat kecewa...  Tapi  menilai  kamu  dari  perawan  atau  gaknya, itu hanyalah menilai  tanpa  memahami.  Dan  kalau  aku  harus  ninggalin  kamu karena hal  itu,  terkesan  seolah-olah  kamu hanya bisa  dinilai  buruk  dan  jelek  dari  satu  kesalahan  saja  yaitu  karena  keperawanan  kamu  yang  sudah  direnggut  laki-laki  brengsek  itu.  Seolah-olah  cinta  dan  rasa  sayang  hanyalah  tentang  kepuasan  malam  pertama,  seolah  cinta  bukan  tentang  menjalani  kehidupan  yang  lebih  sakral..  karena  pernikahan  itu  bukan  dijalani  satu  atau  dua  hari..tapi  untuk  dijalani  selama  kita  hidup  sampai  Allah  memanggil  salah  satu  di  antara  kita.  Kalau  ngomong  tentang  kejujuran...  Aku  kecewa....  ya  aku  kecewa..  aku  kaget  dan  bener-bener  kecewa  sama  kamu, tapi  kenyataannya  rasa  sayang  aku  lebih  besar  daripada  rasa  kecewa  aku  sama  kamu....dan  sampai  detik  ini  perasaan  aku  sama  sekali  gak  berubah  buat  kamu.  Aku  tetep  sayang  sama  kamu....” Hangga tak  kuasa  menahan  tangisnya..  lelehan  air  hangat  itu,  bercucuran  membasahi  pipinya.
“  Hidup  kita masih panjang Ngga. Kamu masih semester 5 sedangkan aku baru semester 4.  Jangan  dulu  membicarakan  tentang  pernikahan.  Masih  banyak  waktu.  Aku  takut  suatu  saat  nanti  perasaan  kamu  akan  berubah.  Dan  aku  pun  gak  mau  kamu  menyesal  pada  akhirnya.  Pikirkanlah  semua  dengan  matang.  Jangan  hanya  satu  atau  dua  bulan.  Tetapi  pikirkan  dengan jangka waktu  yang  panjang.  Untuk  ke  jenjang  pernikahan,  aku  rasa  waktu  kita  masih  panjang. Kuliah saja belum selesai. Kamu kerja saja masih kerja di perusahaan orang tuamu. Aku  rasa  pernikahan  itu  kita  nomor akhirkan  dulu,  lebih  baik  kita  sama-sama  fokus  dengan  apa  yang  kita  rencanakan  untuk  masa  depan  kita.  INSYA  ALLAH....  Allah  akan  memberikan  yang  terbaik  untuk  kita.  Yakinlah  akan  kebesaran-Nya.  Allah  Maha  Mengetahui,  ia  tahu  apa  yang  terbaik  untuk  kita.  Aku  sadar..  aku  sudah  melakukan dosa  yang  amat  fatal,  bahkan  belum  tentu  Allah  mau  mengampuni  segala  kesalahan  aku.. Tapi semaksimal mungkin, di sisa umurku ini aakan kupergunakan hanya untuk mencintai Allah. Yakin saja..  kalau  aku  tulang  rusuk  kamu,  mau  kita  berpisah  berapa  tahun  pun  pasti  Allah  akan  mempertemukan  kita  kembali.  Tetapi  kalau  aku  bukan  tulang  rusuk  kamu,  mau  kita  bertahan  bertahun-tahun  pun  kita  pasti  akan  berpisah  juga.  Karena  tak  ada  seorangpun  di  dunia  ini  yang  tahu  siapa  jodoh  yang  Allah  tetapkan  untuk  kita.  Kita  juga  masih  sama-sama  labil,  jadi  lebih  baik  kamu  fikirkan  matang-matang  dengan  keputusan  ini.  Bukannya  aku  meragukan  rasa  sayang  kamu  buat  aku..  tapi  aku  akan  semakin  merasa  bersalah,  kalau  aku  tetap  membiarkan  kamu  menyayangi  aku....” Berlian kembali  mengeluarkan  cairan  bening  dimatanya,  ia  semakin  bingung.  Apakah Hangga hanya  terbutakan  cinta  sebagai  perasaan  dan  dibutakan  oleh  rasa  sayang,  ataukah  ia  sudah  begitu  dewasa  sehingga  keputusan  batin  untuk  tidak  meninggalkan  dirinya  benar-benar  tulus  dan  memang  tidak  tergoyahkan...  Jadi Hangga menerima Berlian  apa  adanya?  Ah...  entahlah  apakah  itu  sebuah  ketulusan  atau  hanya  obsesi  sesaat.  Berlian benar-benar  tidak  tahu.  Otaknya  benar-benar  buntu. 
Pada  awalnya  ia  berharap  dengan  kejujuran  ini  Hangga dapat  melepaskan  dan  melupakannya  karena  ia  memang  tidak  pantas  untuk Hangga.  Alangkah  naifnya  ia  apabila  ia  tega  menoreh  luka  berkepanjangan  di  hati  pemuda baik itu.  Tapi  ternyata,  persepsinya  salah  besar, Hangga  sama  sekali  tidak  peduli  dengan  kejujurannya. Hangga  tetap bersikeras untuk  serius  dengannya,  dan  ingin  memperistrinya.  Walaupun  kini Hangga mengetahui  bahwa  dirinya  sudah  tidak  virgin  lagi,  itu  sama  sekali  tidak  mengubah  pendiriannya.  Airmata Berlian mengalir  semakin  deras,  kini  airmatanya  bercampur  dengan  perasaan  senang,  bahagia,  juga  tertekan.  Satu  sisi,  ia  sangat  bahagia  karena  masih  ada  lelaki suci yang  berhati  tulus  seperti  Hangga yang  masih  mau  menerima  perempuan  kotor  seperti  dirinya.  Sisi  lain,  ia  pun  tertekan  dengan  rasa  bersalahnya  kepada Allah, Hangga dan dirinya sendiri  karena  tak  dapat  menjaga  kehormatannya. 
Hangga mulai  meraih Berlian di pelukannya,  untuk  pertama  kalinya Hangga  memeluk Berlian.  Ia  memeluknya  dengan  penuh  kasih  sayang,  ia  mencium  rambut  Berlian yang tertutup oleh jilbab seraya  menitikkan  airmatanya. Rasanya  ia  tak  mau  melepaskan  Berlian dari  pelukannya.  Ia  memeluk Berlian  sangat  erat.  Dekapan  hangat  itu  membuat Berlian  semakin  hancur.  Hatinya  serasa  disayat-sayat  seribu  pisau.
“Lian..Aku  sayang  kamu  karena  Allah.  Aku  akan  menunggu  kamu  sampai  kamu  mengerti  bahwa  aku  benar-benar  tulus  menyayangi  kamu.  Aku  akan  terus meyakinkan dan memperjuangkanmu. Aku benar-benar  yakin  ingin  menjadikanmu sebagai istri dunia dan akhiratku. Setelah  aku  sukses  dengan  keringatku  sendiri  tanpa  sedikitpun  harta  dari  orangtuaku,  aku  akan datang melamar  kamu.  Beri  aku  kesempatan  bahwa  aku  layak  untuk  kamu  dan  pantas  untuk  kamu.  Aku  tekankan  sekali  lagi,  aku  butuh  pendamping  hidup bukan pemuas hasrat!  Dan  aku  tidak  peduli  dengan kondisi  kamu.  Terserah  apapun  persepsi  orang  lain  tentang  kamu.  Yang  jelas..  kamu  tetap  menjadi  perempuan  paling  istimewa  di hidupku...  Aku  tetep  sayang  sama  kamu.. Lian... aku  akan  selalu  menyayangi  kamu  disaat  tak  ada  satu  orangpun  di  dunia  ini  yang  menyayangi  kamu...”  Bisik Hangga lembut,  cucuran  air  hangat  meleleh-leleh  di  pipinya.  Kalimat-kalimat  itu  membuat  airmata Berlian  mengalir  semakin  deras.  Tiba-tiba Berlian melepaskan  tubuhnya  dalam  pelukan Hangga,  hal  itu  sontak  membuat  Hangga  terhenyak.
“Lepaskan aku. Apa-apaan kamu, malah memelukku begitu lama.” Bentaknya kasar.
“Astaghfirullah maaf, aku khilaf.” Jawabnya dengan takut.
Aku  mau  pulang..”  Hanya  kata-kata  itu  yang  terlontar  dari  mulut Berlian,  selebihnya  ia  hanya  menghapus  tetesan airmatanya  dengan  kedua  tangannya.
“Iya..  sebentar  lagi  kincir  ini  berhenti.”  Jawab  Hangga lirih,  seraya  menghapus  sisa-sisa  airmata  disela-sela  bulu  matanya.  Kembali  ia  menatap  Berlian dengan  penuh  kesedihan. Gadis itu,  tetap  menjadi wanita  yang  spesial  di  hatinya.  Tak  ada  perubahan  meskipun  kejujuran  itu  menghancurkan  hatinya.
Kincir  itu  berhenti,  Berlian dan Hangga  turun  dengan  hati  yang  diliputi  kekacauan.  Keduanya  tak  berbicara  apa-apa  lagi.  Mereka  sibuk  dengan  pikirannya  masing-masing.  Di  perjalanan,  mereka  lebih  banyak  diam.  Hangga  mengemudikan  mobilnya  dengan  setengah  melamun,  tapi  ia    berusaha  agar  tetap  berkonsentrasi  untuk  menjaga  keselamatan  dirinya dan Berlian. Sedangkan Berlian, ia  hanya  melamun.  Tatapannya  kosong.  Sekosong  pikiran  dan  hatinya.  Dunia  terasa  berhenti  bagi  keduanya,  tak  ada  yang  tersisa.  Waktu  pun  terasa  mati.  Detak  jantung  seakan  berhenti.  Begitupun  hati  keduanya.  Mati.  Terhempas  dan  hilang  ditembus  angin.
Sesampainya  di  depan  gerbang  rumah  Berlian, Hangga  mengantar Berian  ke  dalam. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Berlian, ia seperti patung hidup.
“Selamat  malam  Om..Tante..  maaf Hangga  membawa  Berlian hingga  larut  malam.”  Sapa  Hangga seraya  memohon  maaf  kepada  kedua  orangtua  Berlian.
Iya..tak apa-apa Ngga.  Terima  kasih  sudah  mengantar Lian  pulang..”  Sahut  Papa Berlian  ramah.
“Kalau  begitu..  Hangga pamit  pulang  Om..Tante...”
“Tidak  mampir  dulu?  Mari  masuk...”  Ajak  Mama  Berlian.
“Mkasih Tante, tapi ini  sudah  larut  malam. Hangga  pulang  dulu  Om,  Tante..  Assalamualaikum...”
Hangga segera  masuk  ke  dalam  mobil.  Ia  langsung  menancap  gas  dengan  kecepatan  tinggi.  Ia  mengemudi  sambil  menangis.  Ia  menangis  sejadi-jadinya,  menangisi  gadis  yang  paling  ia  sayangi.  Pikirannya  melayang  jauh  melesat  bagaikan  komet  yang  jatuh  dari  langit.  Setengah  kesadarannya  hilang.  Nyawanya  seakan  melayang.  Ia  berhenti  di  sebuah  tempat  yang  sepi.  Lama  ia  terpaku  menatap  jutaan  cahaya  lampu  yang  menerangi  malam  yang  kian  larut.  Ia  menatap  sampai  matanya  terasa  berkunang-kunang  dan  kembali  ia  menumpahkan  airmatanya.  Menumpahkan  segala  kekecewaan  hatinya.  Ia  menangis  sampai  tak  dapat  berbicara apapun. Lama  ia  diam  di  tempat  itu.  Ia  keluar  dari  mobil  dan  berteriak  sekencang-kencangnya...
“Aaaaaaaaaaaaaarrrrrrrggggghhhhhhh............................Liaannnn...  teganya  kamu  kepada  diriku dan diri  kamu  sendiri...................  Mengapa kamu tak mau memberiku kesempatan, padahal sudah jelas kita saling menyayangi. Tak  bisakah  kamu  melihat  kejujuran  dan ketulusan hatiku, Liann?? sebejad-bejadnya aku...  seberengsek-berengseknya  aku,  aku  sama  sekali  tak  pernah  menyentuhmu apalagi menggaulimu Liann... karena  aku  sayang  sama  kamu.  Aku  sayang  kamu  karena  Allah  dan  aku  akan  tetap  menunggu  kamu Liann....!!  Aku  akan  membuktikan  kalau  aku  benar-benar  tulus  menyayangi  kamu.........Aku  gak  perduli dengan  kondisi  kamu!  Insya  Allah  aku  akan tetep  melamar  kamu  Lian..  please  tunggu  aku  Lian.. Setelah wisuda, aku pasti sukses lalu aku akan datang melamarmu.   Aku  benar-benar  menyayangi  kamuuu tanpa embel-embel apapun..........”
Teriakan  itu  parau  diselingi  isak  tangis.  Hangga bersandar  di  samping  mobil  itu.  Terduduk  lemas  di  tengah-tengah  kepedihan  hatinya.  Bayang-bayang  wajah  Berlian  semakin  membuat  hatinya  sakit  dan  terluka.  Matanya  terasa  pedas,  lelehan  air  hangat  itu  membasahi  wajah  tirusnya.  Airmata  itu  adalah  airmata  ketulusan.  Airmata  yang  menaruh  sebuah  harapan pada sosok wanita yang disayangnya J

Sekian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar