Ini ditulis dari pengalaman
almarhumah tenteku dengan suaminya :) Namun tak semuanya ditulis berdasarkan
kisah nyatanya, sedikit dari tulisan ini merupakan fiksi dari imajinasiku.
selamat membaca :)
Angin malam yang berhembus pelan telah membelai wajahnya. Wajah
yang basah karena air wudhunya itu begitu pucat pasi namun terlihat bersinar.
Tiba-tiba rasa dingin yang segar menyentuh kulit roma nya seakan memberi
kekuatan untuk batinnya. Di sepertiga malam itu, ia melakukan sujud panjangnya,
bermunajat kepada Tuhan-Nya. Berusaha memancarkan cinta dan rindunya kepada
Tuhan serta Rasul-Nya. Bidadari yang menjadi tulang rusuknya dan telah
melengkapi separuh hidupnya kini sudah meninggalkan dirinya seorang diri.
Melalui sebuah ikatan suci dengan disaksikan oleh semesta alam beserta isinya
dia telah mengungkapan kalimat qobiltu yang begitu membahagiakan.
Lelaki berperawakan tinggi dan berkulit putih itu bernama Umar
Al Faruq. Dia tengah menangis di atas hamparan sajadah yang telah digelarnya di
samping ranjang tempat tidurnya.
“Rabbi, aku bersyukur karena telah Engkau titipkan bidadari shaleha
seperti dia. Parasnya yang rupawan, akhlaqnya yang begitu mulia, tutur katanya
yang begitu lembut serta perilakunya yang penurut membuatku begitu
mencintainya. Rabbi, lapangkan kuburnya, terangilah cahaya kuburnya dengan
cahaya kasih-Mu, selamatkan dia dari siksa kuburnya, tempatkan dia bersama para
bidadari surga-Mu, ijinkanlah dia mengecup kenikmatan surga-Mu, biarkanlah dia
menjadi ratu bidadari untuk diriku. Rabbi, jadikanlah dia sebagai istri
satu-satunya untukku. Jadikanlah dia jodoh dunia dan akhirat untukku.”
Dia tak sanggup lagi menuntaskan permohonannya pada Sang Illahi
Rabbi. Air matanya menetes begitu deras saat fikirannya menuju pada masa-masa
kebersamaan antara dia dan bidadari hidupnya.
Beberapa tahun yang lalu....
Pagi yang begitu cerah dengan udara yang begitu sejuk serta
burung-burung yang sedang asyik berkicauan membuat suasana pedesaan ini menjadi
begitu nyaman.
Pagi ini, Faruq tengah asyik bercengkrama ria dengan para
sahabatnya saat ustadzah mereka memasuki ruang kelas wustho putra 2 bersama
seorang santriwati di belakangnya. Santriwati itu memperkenalkan dirinya dengan
wajah yang serba salah, menahan malu dan ketidakpercayaan dirinya.
“Nama sa..ya Fatimah Az-Zahra, saya pindahan dari MA Nurun Nabi
Surabaya. Saya harap, kawan-kawan dapat membantu saya dalam bersosialisasi
disini. Terima kasih!”
Faruq menampakkan senyum jahatnya, Habib yang berada di
sampingnya itu mengerti akan tingkah dan niat teman akrabnya itu.
“Sudahlah, jangan jadikan dia sebagai korban bullimu lagi. Dia
terlalu polos untuk itu,Far.” Nasihatnya.
“Polos dari mana? Jangan terbiasa menilai seseorang dari luarnya
saja bos!” Bantah Faruq.
“Kamu ini selalu suudzon saja sama seseorang Far. Jangan terlalu
berfirasat buruk! Bagaimana jika penilaianmu itu salah? Itu malah akan
menimbulkan fitnah loh.” Ucap Habib pelan.
“Ya kita lihat saja nanti.” Sahut Faruq sambil berjalan pergi.
Hari demi hari,minggu berganti minggu Faruq semakin menguji
kepribadian Zahra. Hampir di setiap pertemuannya dengan Zahra selalu diwarnai
dengan lemparan kalimat yang tajam serta gambaran wajah yang sinis.
“Eh ada anak bermasa lalu suram disini. Mau sholat ya? Apa mau
caper ke santriwan disini?”
Zahra hanya diam mematung mendengar ucapan Faruq yang begitu
menyakitkan hati.
“ Ditanya kok malah diam. Gak punya mulut ya? Eh kamu itu
memandang kemana? Orang aku di depan, eh matamu kok memandang ke bawah.
Hahaha.” Celoteh Faruq.
Faruq dapat melihat ekspresi Zahra yang begitu menahan malu. Wajahnya
menunduk serta ingin segera melarikan diri menjauhinya.
“Kenapa? Kalau mau pergi ya sana pergi saja.”Usir Faruq.
Baru selangkah Zahra berjalan, tiba-tiba teman akrab Zahra yang
bernama Habibah menghampiri mereka.
Gadis itu mengarahkan
telunjuknya di depan wajah Faruq, kemudian melemparkan kritikan untuknya.
Namun, Faruq tak pernah peduli akan hal itu.
“Kamu itu punya perasaan apa gak sih Ruq? Bisanya hanya mengejek
orang lain saja tanpa melihat diri sendiri terlebih dahulu. Sudah ngerasa
paling sempurna ya kamu? kamu mau merendahkan Zahra lagi? Ingat ya, kamu juga
mempunyai kakak dan Ibu di rumah! Mereka juga perempuan sama seperti Zahra.”
“Kamu pikir kamu itu siapa heh? Ini mulut gue, ya terserah gue
dong mau ngomong apa! Cerewet banget sih jadi wanita. Sok perhatian lagi. Anak
bermasa lalu suram kok dibelain terus.” Faruq membalas ucapan Habibah dengan
kalimat kasar.
“Eh ingat ya Ruq, Zahra memang memiliki masa lalu yang buruk
tapi dia memiliki masa depan yang begitu indah. Masa depan Zahra masih suci
meski dirinya sudah tak suci. Memangnya kamu ini siapa?? Kamu Tuhan?? Berani
banget ngusik masa lalu seseorang.” Bentak Habibah.
“Hahaha ya suka-suka gue lah.”
Habibah hanya menggeleng pelan, kemudian menarik tangan Zahra
untuk segera menjauh dari Faruq yang terkenal menyebalkan oleh sebagian orang.
“Ra kamu menangis?” Tanya Habibah.
Habibah tak sengaja
melihat setetes air yang bening jatuh dari tempat penampungannya, mungkin batin
Zahra sudah benar-benar lelah sampai hujan membasahi pipinya.
“Tidak kok.” Zahra berusaha menutupi kesakitannys dengan
senyuman yang terukir di bibir mungilnya
“Sudahlah Ra, air mata kamu terlalu sia-sia jika harus terjatuh
karena Faruq. Sudah ya jangan menangis lagi.” Bujuk Habibah sambil mengusap air
mata Zahra.
“Syukron ya ukhti, kamu selalu membelaku di depan Faruq. Semoga
Allah membalas kebaikanmu selama ini.” Peluk Zahra.
“Na’am ukhti. Kamu harus sabar ya. Buktikan sama Faruq kalau
kamu lebih baik daripada dia.”
Tanpa disangka, Faruq mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Hati Faruq seketika berdesir dan meleleh saat melihat wanita yang selalu
dihinanya itu meneteskan air mata karenanya. Sebelum mereka menyadari akan
kehadirannya, dia bergegas pergi dari bilik masjid dan kembali menuju kelasnya.
“Woi Far, kenapa kamu daritadi diam saja?” Tegur Habib.
“Nggak apa-apa kok.” Sahutnya pelan.
“Jangan-jangan kamu mulai suka sama wanita yang selalu kamu hina
itu ya?”
“Nggak lah,ngapain suka sama wanita kayak dia. Lagian aku pergi
ke majelis ini buat nyari ilmu bukan buat cari pasangan.” Bantahnya.
“Cari ilmu sekalian cari masalah kan?”
Faruq hanya diam membisu, dia tak mengeluarkan sepatah katapun.
Dia tidak menghiraukan ramainya kawan-kawannya yang berada di sampingnya. Dia terus
memikirkan tatapan tajam dan sakit yang berada dalam mata Zahra. Dia merasa
menyesal karena selalu menghina dan merendahkan Zahra. Namun, dia terlalu
gengsi jika harus minta maaf kepada wanita tersebut.
Waktu terus berlalu, masa-masa pertengahan dalam diniyah telah
usai. Namun di sekolah umumnya telah memasuki masa-masa yang akan membawa para
santriwan dan santriwati kepada jadwal yang padat serta tugas yang menumpuk. Di
sela-sela kesibukan mereka, diam-diam Faruq menaruh rindu pada Zahra. Apalagi
di semester akhir, Zahra sudah jarang memasuki diniyah karena dia lebih fokus
pada sekolah umumnya. Faruq merasakan ada sesuatu yang hilang dari
hari-harinya, sesuatu yang ganjal di dalam hatinya. Disaat kerinduan dan
kebimbangan itu semakin memuncak, ternyata Tuhan mempertemukan mereka pada
suatu pertemuan yang tak sengaja. Mereka berpapasan di pintu gerbang diniyah,
namun Faruq benar-benar tak mampu membuka mulutnya meski hanya sekedar menyapa
Zahra saja.
“Permisi.” ujar Zahra melewati Faruq yang saat itu berada di
pertengahan pintu gerbang.
“Kalau mau lewat silahkan lewat aja!” sahut Faruq dengan nada
angkuhnya untuk menutupi kegalauan yang tiba-tiba mengganggunya.
Faruq tak lagi melihat tatapan yang ramah dari mata Zahra, tak
lagi seperti dulu yang selalu memancarkan hawa persahabatan. Saat ini, yang ada
hanyalah tatapan tajam yang memancarkan rasa perlawanan dan pemberontakan. Hingga
suatu hari mereka kembali dipertemukan dalam suatu hal ketidaksengajaan. Malam
itu, Faruq melihat Zahra sedang kesulitan saat hendak mengeluarkan
kendaraannya. Faruq bergegegas menghampirinya dan segera meminggirkan satu
motor yang membuat Zahra merasa kesulitan. Karena merasa bahagia, Zahra
kemudian melemparkan satu senyuman kepada Faruq dan dibalas senyuman manis pula
oleh Faruq.
Setiba di rumah, dia langsung bergegas menuju kamarnya dan
menyalakan laptop Acer miliknya. Begitu dia membuka akun facebook, ada 1 pesan
masuk dari Zahra.
“Assalamualaikum, terima kasih kawan atas bantuannya tadi. Maaf
karena tidak sempat mengucapkannya. ”
Faruq tersenyum kecil karena menerima pesan itu, gaya bahasa
yang formal membuatnya semakin salah tingkah.
“Ada-ada saja tingkah gadis ini!” ujar Faruq sembari memejamkan
matanya.
Tanpa terasa, perjalanan mencari ilmu dalam masa sekolah umum
telah berakhir. Masa-masa yang penuh suka dan duka itu telah membawa Faruq kepada
banyak hal yang penuh warna. kini, tibalah muncul perasaan bingung dalam
memilih pendidikan tingkat lanjutnya.
“Kalau saran mbak sih, kamu lanjutkan di STAIN saja Far, belajar
jadi seorang pemuda islam yang berguna.” Saran kakaknya yang bernama Ika.
“Tapi itu tidak ada hubungannya dengan jurusanku saat ini mbak,
kalau tentang agama insya Allah di Al-Anwar sudah lebih dari cukup.”
“Kalau begitu di ITS saja Far, kamu ambil prodi listrik sama
seperti jurusanmu saat bersekolah di umum.”
“Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu mbak.” Jawabnya setelah
mempertimbangkan segala hal.
“Lalu kamu mau cari kos disana apa pulang pergi ke sidoarjo?”
Tanya kakaknya.
“Lebih baik pulang pergi sidoarjo saja mbak biar diniyah nya
juga jalan terus.” Jawabnya pasti.
Dua tahun sudah Faruq menjalani perkuliahan di salah satu
Institut favoritnya di Surabaya. Dimasa itulah dia telah mendapatkan banyak hal
dan pengalaman yang menurutnya sangatlah hebat karena mampu mengubah pribadinya
yang kurang baik menjadi lebih baik. Selain itu, dia sangat aktif dalam
kegiatan rohis di kampusnya.
“Akh, bagaimana kalau seminar kali ini kita undang ustadz
terkenal di Jakarta, Ustadz Solmed misalnya. Biar menambah ketertarikan para
mahasiswa di luar kampus kita.” Usul Ali sahabat kampusnya.
“Kalau menurut saya, lebih baik ustadz di kota ini saja. Karena
takutnya, niat mereka mengikuti seminar bukan lillahhi ta’ala, melainkan karena
hendak bertemu sang ustadz. Selain itu, biayanya pun jadi semakin besar.” Balas
Faruq dengan mantap.
“Wah kamu benar akh, saya setuju dengan usul kamu. Baiklah, biar
saya sampaikan usulmu kepada adikku, agar adikku menyampaikannya pada ukhti
Zahra selaku penanggung jawab dari kampus sebelah.” Sahut Ari lagi.
“Hah ukhti Zahra?” Faruq terheran-heran.
“Apakah kamu kenal dengan dia akh?”
“Tentu saya mengenalnya, dia kawan seperjuangan saya di
diniyah.” Jawabnya begitu bangga.
Senja mulai memperlihatkan pancaran jingganya. Kali ini pancaran
lembayung tampak lebih pekat dari biasanya. Seperti biasa, Faruq baru selesai dari
aktifitas rohis di kampusnya. Di halaman rumahnya, dia memandang ufuk langit
yang tampak memerah, pancaran mentari tak lama lagi akan di gantikan oleh sang
rembulan.
Faruq termenung di kamarnya, kakaknya yang melihat adiknya sedang
santai tanpa kesibukan itu segera menghampirinya.
“Far, mbak boleh masuk?” tanya kakaknya.
“Silahkan mbak.” Sahutnya pelan dari dalam kamar.
“Far kuliahmu sudah hampir selesai, umurmu sudah 24 tahun. Apa
kamu tidak berniat untuk melengkapi ibadahmu? Dan menemukan tulang rusukmu?”
Ucap Mbak Ika ragu.
“Eeehhh...Belum punya calon mbak.” Jawabnya singkat.
“Loh wanita yang pernah kamu ceritakan ke mbak itu bagaimana?”
“Aku juga tak tahu mbak, mungkin dia sudah punya calon. Kalau
mbak punya,bolehlah Faruq coba.” Jawabnya pasrah.
“Kamu serius? Apa kamu mau ta’aruf?”
“Insya Allah mbak, jika ini memang terbaik aku nurut saja.”
“Alhamdulillah. Baiklah, mbak akan segera atur pertemuan
keluarga kita dan keluarganya. Ini calonnya pilihan bapak. Semoga hatimu mantap
dan semoga dialah wanita yang kamu cari. Ini biodata tentang dia, silahkan kamu
baca sendiri.” Ujarnya sambil menyerahkan amplop cokelat berisi biodata dan
foto dia.
Faruq membuka amplop itu dengan bismillah, hatinya tiba-tiba
berdesir tatkala menemukan nama beserta foto Fatimah Az-Zahra di dalamnya. Memorinya
kembali berputar pada masa-masa jahiliyah yang begitu membuatnya malu dan sakit
hati. Wanita yang dulunya selalu dihina, wanita yang pernah dia sukai ternyata
pilihan keluarganya. Tanpa banyak kata Faruq dan keluarganya segera datang
meminta Zahra kepada ayah Zahra. Faruq mengucap syukur tatkala dia mengetahui
bahwa Zahra menerima lamarannya. Kedua matanya tak lagi tajam penuh perlawanan
seperti dahulu, melainkan lebih terlihat bening dan menyejukkan hati.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Fatimah Az-Zahra binti Ali
Azhari dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai!” Faruq mengucapkan ijab
qabul itu dengan disaksikan seluruh semesta alam beserta isinya.
Langit yang semula mendung telah berubah menjadi cerah, secerah
hati Faruq yang tak lagi kelabu karena kesendiriannya. Karena telah ada seorang
bidadari di sisinya, yang akan dipertahankannya selama Allah mengijinkan.
________
“Mas mau punya anak berapa?” tanya Zahra tiba-tiba, di tengah kebersamaan mereka di
sebuah pantai.
“Terserah Allah saja memberinya berapa, yang terpenting kamu
mampu melakukannya dik.” Jawab Faruq bijak.
“Mas, aku ingin anak pertama kita perempuan. Biar ada seseorang
yang merawatmu jika saya menghadap Allah terlebih dahulu.”
“Walau bagaimanapun, nantinya kan dia juga akan menikah dan
mengikuti suaminya? Hayo, bagaimana?”
“Tidak apa-apa mas, karena aku lebih percaya dengan seorang
wanita. Wanita itu lebih lembut dan kasih sayangnya terlihat begitu nyata.”
“Kalau begitu, andai mas menikah lagi bagaimana dik?”
Zahra terdiam karena ucapan suaminya, mungkin ada rasa cemburu
di hatinya sehingga membuat wajah Zahra terlihat manyun. Ekspresi wajah Zahra
membuat Faruq tersenyum geli jika menatap istrinya.
“Lucu banget istriku kalau ngambek. Mas bercanda dik, meski kamu
lebih dahulu bertemu Allah, mas akan tetap setia dengan kamu. Mas ingin
menjadikanmu satu-satunya bidadari hidupku dan bidadari surgaku nanti.”
Jawabnya sembari memegang tangan istrinya begitu erat.
“Terima kasih mas.” Ucap Zahra sambil memeluk suaminya.
Hari-hari mereka menjadi begitu indah dan bahagia. Tak ada
hari-hari yang suram selama pernikahan mereka. Tahap demi tahap berpacaran
setelah menikah Faruq jalani dengan indah bersama Zahra. Hingga akhirnya hari
yang suram itu tiba, Allah menjemput Zahra terlebih dahulu melalui penyakit
jantung yang dideritanya. Hari-hari Faruq tak lagi cerah seperti sedia kala, dua
tahun bersama dalam indahnya menjalani dan merasakan cinta dalam naungan Allah
seakan belum mampu membalas setahun perlakuan buruknya terhadap Zahra. Faruq
semakin meneteskan air matanya begitu deras, dia benar-benar kehilangan separuh
jiwanya, hatinya benar-benar tak percaya dia akan lebih cepat ditinggalkan
wanita yang dicintainya. Tiba-tiba hatinya membujuk dirinya, meminta untuk
segera kembali bersimpuh mengingat sang pencipta-Nya. Dia terus menyebut Asma
Allah meminta pertolongan agar diberikan kesabaran serta kekuatan menjalani
cobaan itu seorang diri. Dia meminta agar segera dipertemukan dengan istri
tercintanya dan dibangunkan rumah di Surga-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar