Sabtu, 22 November 2014

Bidadari Titipan Allah


Ini ditulis dari pengalaman almarhumah tenteku dengan suaminya :) Namun tak semuanya ditulis berdasarkan kisah nyatanya, sedikit dari tulisan ini merupakan fiksi dari imajinasiku. selamat membaca :) 

Angin malam yang berhembus pelan telah membelai wajahnya. Wajah yang basah karena air wudhunya itu begitu pucat pasi namun terlihat bersinar. Tiba-tiba rasa dingin yang segar menyentuh kulit roma nya seakan memberi kekuatan untuk batinnya. Di sepertiga malam itu, ia melakukan sujud panjangnya, bermunajat kepada Tuhan-Nya. Berusaha memancarkan cinta dan rindunya kepada Tuhan serta Rasul-Nya. Bidadari yang menjadi tulang rusuknya dan telah melengkapi separuh hidupnya kini sudah meninggalkan dirinya seorang diri. Melalui sebuah ikatan suci dengan disaksikan oleh semesta alam beserta isinya dia telah mengungkapan kalimat qobiltu yang begitu membahagiakan.
Lelaki berperawakan tinggi dan berkulit putih itu bernama Umar Al Faruq. Dia tengah menangis di atas hamparan sajadah yang telah digelarnya di samping ranjang tempat tidurnya.
“Rabbi, aku bersyukur karena telah Engkau titipkan bidadari shaleha seperti dia. Parasnya yang rupawan, akhlaqnya yang begitu mulia, tutur katanya yang begitu lembut serta perilakunya yang penurut membuatku begitu mencintainya. Rabbi, lapangkan kuburnya, terangilah cahaya kuburnya dengan cahaya kasih-Mu, selamatkan dia dari siksa kuburnya, tempatkan dia bersama para bidadari surga-Mu, ijinkanlah dia mengecup kenikmatan surga-Mu, biarkanlah dia menjadi ratu bidadari untuk diriku. Rabbi, jadikanlah dia sebagai istri satu-satunya untukku. Jadikanlah dia jodoh dunia dan akhirat untukku.”
Dia tak sanggup lagi menuntaskan permohonannya pada Sang Illahi Rabbi. Air matanya menetes begitu deras saat fikirannya menuju pada masa-masa kebersamaan antara dia dan bidadari hidupnya.

Beberapa tahun yang lalu....


Pagi yang begitu cerah dengan udara yang begitu sejuk serta burung-burung yang sedang asyik berkicauan membuat suasana pedesaan ini menjadi begitu nyaman.
Pagi ini, Faruq tengah asyik bercengkrama ria dengan para sahabatnya saat ustadzah mereka memasuki ruang kelas wustho putra 2 bersama seorang santriwati di belakangnya. Santriwati itu memperkenalkan dirinya dengan wajah yang serba salah, menahan malu dan ketidakpercayaan dirinya.
“Nama sa..ya Fatimah Az-Zahra, saya pindahan dari MA Nurun Nabi Surabaya. Saya harap, kawan-kawan dapat membantu saya dalam bersosialisasi disini. Terima kasih!”
Faruq menampakkan senyum jahatnya, Habib yang berada di sampingnya itu mengerti akan tingkah dan niat teman akrabnya itu.
“Sudahlah, jangan jadikan dia sebagai korban bullimu lagi. Dia terlalu polos untuk itu,Far.” Nasihatnya.
“Polos dari mana? Jangan terbiasa menilai seseorang dari luarnya saja bos!” Bantah Faruq.
“Kamu ini selalu suudzon saja sama seseorang Far. Jangan terlalu berfirasat buruk! Bagaimana jika penilaianmu itu salah? Itu malah akan menimbulkan fitnah loh.” Ucap Habib pelan.
“Ya kita lihat saja nanti.” Sahut Faruq sambil berjalan pergi.
Hari demi hari,minggu berganti minggu Faruq semakin menguji kepribadian Zahra. Hampir di setiap pertemuannya dengan Zahra selalu diwarnai dengan lemparan kalimat yang tajam serta gambaran wajah yang sinis.
“Eh ada anak bermasa lalu suram disini. Mau sholat ya? Apa mau caper ke santriwan disini?”
Zahra hanya diam mematung mendengar ucapan Faruq yang begitu menyakitkan hati.
“ Ditanya kok malah diam. Gak punya mulut ya? Eh kamu itu memandang kemana? Orang aku di depan, eh matamu kok memandang ke bawah. Hahaha.” Celoteh Faruq.
Faruq dapat melihat ekspresi Zahra yang begitu menahan malu. Wajahnya menunduk serta ingin segera melarikan diri menjauhinya.
“Kenapa? Kalau mau pergi ya sana pergi saja.”Usir Faruq.
Baru selangkah Zahra berjalan, tiba-tiba teman akrab Zahra yang bernama Habibah menghampiri mereka.
 Gadis itu mengarahkan telunjuknya di depan wajah Faruq, kemudian melemparkan kritikan untuknya. Namun, Faruq tak pernah peduli akan hal itu.
“Kamu itu punya perasaan apa gak sih Ruq? Bisanya hanya mengejek orang lain saja tanpa melihat diri sendiri terlebih dahulu. Sudah ngerasa paling sempurna ya kamu? kamu mau merendahkan Zahra lagi? Ingat ya, kamu juga mempunyai kakak dan Ibu di rumah! Mereka juga perempuan sama seperti Zahra.”
“Kamu pikir kamu itu siapa heh? Ini mulut gue, ya terserah gue dong mau ngomong apa! Cerewet banget sih jadi wanita. Sok perhatian lagi. Anak bermasa lalu suram kok dibelain terus.” Faruq membalas ucapan Habibah dengan kalimat kasar.
“Eh ingat ya Ruq, Zahra memang memiliki masa lalu yang buruk tapi dia memiliki masa depan yang begitu indah. Masa depan Zahra masih suci meski dirinya sudah tak suci. Memangnya kamu ini siapa?? Kamu Tuhan?? Berani banget ngusik masa lalu seseorang.” Bentak Habibah.
“Hahaha ya suka-suka gue lah.”
Habibah hanya menggeleng pelan, kemudian menarik tangan Zahra untuk segera menjauh dari Faruq yang terkenal menyebalkan oleh sebagian orang.
“Ra kamu menangis?” Tanya Habibah.
 Habibah tak sengaja melihat setetes air yang bening jatuh dari tempat penampungannya, mungkin batin Zahra sudah benar-benar lelah sampai hujan membasahi pipinya.
“Tidak kok.” Zahra berusaha menutupi kesakitannys dengan senyuman yang terukir di bibir mungilnya
“Sudahlah Ra, air mata kamu terlalu sia-sia jika harus terjatuh karena Faruq. Sudah ya jangan menangis lagi.” Bujuk Habibah sambil mengusap air mata Zahra.
“Syukron ya ukhti, kamu selalu membelaku di depan Faruq. Semoga Allah membalas kebaikanmu selama ini.” Peluk Zahra.
“Na’am ukhti. Kamu harus sabar ya. Buktikan sama Faruq kalau kamu lebih baik daripada dia.”
Tanpa disangka, Faruq mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Hati Faruq seketika berdesir dan meleleh saat melihat wanita yang selalu dihinanya itu meneteskan air mata karenanya. Sebelum mereka menyadari akan kehadirannya, dia bergegas pergi dari bilik masjid dan kembali menuju kelasnya.
“Woi Far, kenapa kamu daritadi diam saja?” Tegur Habib.
“Nggak apa-apa kok.” Sahutnya pelan.
“Jangan-jangan kamu mulai suka sama wanita yang selalu kamu hina itu ya?”
“Nggak lah,ngapain suka sama wanita kayak dia. Lagian aku pergi ke majelis ini buat nyari ilmu bukan buat cari pasangan.” Bantahnya.
“Cari ilmu sekalian cari masalah kan?”
Faruq hanya diam membisu, dia tak mengeluarkan sepatah katapun. Dia tidak menghiraukan ramainya kawan-kawannya yang berada di sampingnya. Dia terus memikirkan tatapan tajam dan sakit yang berada dalam mata Zahra. Dia merasa menyesal karena selalu menghina dan merendahkan Zahra. Namun, dia terlalu gengsi jika harus minta maaf kepada wanita tersebut.
Waktu terus berlalu, masa-masa pertengahan dalam diniyah telah usai. Namun di sekolah umumnya telah memasuki masa-masa yang akan membawa para santriwan dan santriwati kepada jadwal yang padat serta tugas yang menumpuk. Di sela-sela kesibukan mereka, diam-diam Faruq menaruh rindu pada Zahra. Apalagi di semester akhir, Zahra sudah jarang memasuki diniyah karena dia lebih fokus pada sekolah umumnya. Faruq merasakan ada sesuatu yang hilang dari hari-harinya, sesuatu yang ganjal di dalam hatinya. Disaat kerinduan dan kebimbangan itu semakin memuncak, ternyata Tuhan mempertemukan mereka pada suatu pertemuan yang tak sengaja. Mereka berpapasan di pintu gerbang diniyah, namun Faruq benar-benar tak mampu membuka mulutnya meski hanya sekedar menyapa Zahra saja.
“Permisi.” ujar Zahra melewati Faruq yang saat itu berada di pertengahan pintu gerbang.
“Kalau mau lewat silahkan lewat aja!” sahut Faruq dengan nada angkuhnya untuk menutupi kegalauan yang tiba-tiba mengganggunya.
Faruq tak lagi melihat tatapan yang ramah dari mata Zahra, tak lagi seperti dulu yang selalu memancarkan hawa persahabatan. Saat ini, yang ada hanyalah tatapan tajam yang memancarkan rasa perlawanan dan pemberontakan. Hingga suatu hari mereka kembali dipertemukan dalam suatu hal ketidaksengajaan. Malam itu, Faruq melihat Zahra sedang kesulitan saat hendak mengeluarkan kendaraannya. Faruq bergegegas menghampirinya dan segera meminggirkan satu motor yang membuat Zahra merasa kesulitan. Karena merasa bahagia, Zahra kemudian melemparkan satu senyuman kepada Faruq dan dibalas senyuman manis pula oleh Faruq.
Setiba di rumah, dia langsung bergegas menuju kamarnya dan menyalakan laptop Acer miliknya. Begitu dia membuka akun facebook, ada 1 pesan masuk dari Zahra.
“Assalamualaikum, terima kasih kawan atas bantuannya tadi. Maaf karena tidak sempat mengucapkannya. ”
Faruq tersenyum kecil karena menerima pesan itu, gaya bahasa yang formal membuatnya semakin salah tingkah.
“Ada-ada saja tingkah gadis ini!” ujar Faruq sembari memejamkan matanya.
Tanpa terasa, perjalanan mencari ilmu dalam masa sekolah umum telah berakhir. Masa-masa yang penuh suka dan duka itu telah membawa Faruq kepada banyak hal yang penuh warna. kini, tibalah muncul perasaan bingung dalam memilih pendidikan tingkat lanjutnya.
“Kalau saran mbak sih, kamu lanjutkan di STAIN saja Far, belajar jadi seorang pemuda islam yang berguna.” Saran kakaknya yang bernama Ika.
“Tapi itu tidak ada hubungannya dengan jurusanku saat ini mbak, kalau tentang agama insya Allah di Al-Anwar sudah lebih dari cukup.”
“Kalau begitu di ITS saja Far, kamu ambil prodi listrik sama seperti jurusanmu saat bersekolah di umum.”
“Baiklah, aku setuju dengan pendapatmu mbak.” Jawabnya setelah mempertimbangkan segala hal.
“Lalu kamu mau cari kos disana apa pulang pergi ke sidoarjo?” Tanya kakaknya.
“Lebih baik pulang pergi sidoarjo saja mbak biar diniyah nya juga jalan terus.” Jawabnya pasti.
Dua tahun sudah Faruq menjalani perkuliahan di salah satu Institut favoritnya di Surabaya. Dimasa itulah dia telah mendapatkan banyak hal dan pengalaman yang menurutnya sangatlah hebat karena mampu mengubah pribadinya yang kurang baik menjadi lebih baik. Selain itu, dia sangat aktif dalam kegiatan rohis di kampusnya.
“Akh, bagaimana kalau seminar kali ini kita undang ustadz terkenal di Jakarta, Ustadz Solmed misalnya. Biar menambah ketertarikan para mahasiswa di luar kampus kita.” Usul Ali sahabat kampusnya.
“Kalau menurut saya, lebih baik ustadz di kota ini saja. Karena takutnya, niat mereka mengikuti seminar bukan lillahhi ta’ala, melainkan karena hendak bertemu sang ustadz. Selain itu, biayanya pun jadi semakin besar.” Balas Faruq dengan mantap.
“Wah kamu benar akh, saya setuju dengan usul kamu. Baiklah, biar saya sampaikan usulmu kepada adikku, agar adikku menyampaikannya pada ukhti Zahra selaku penanggung jawab dari kampus sebelah.” Sahut Ari lagi.
“Hah ukhti Zahra?” Faruq terheran-heran.
“Apakah kamu kenal dengan dia akh?”
“Tentu saya mengenalnya, dia kawan seperjuangan saya di diniyah.” Jawabnya begitu bangga.
Senja mulai memperlihatkan pancaran jingganya. Kali ini pancaran lembayung tampak lebih pekat dari biasanya. Seperti biasa, Faruq baru selesai dari aktifitas rohis di kampusnya. Di halaman rumahnya, dia memandang ufuk langit yang tampak memerah, pancaran mentari tak lama lagi akan di gantikan oleh sang rembulan.
Faruq termenung di kamarnya, kakaknya yang melihat adiknya sedang santai tanpa kesibukan itu segera menghampirinya.
“Far, mbak boleh masuk?” tanya kakaknya.
“Silahkan mbak.” Sahutnya pelan dari dalam kamar.
“Far kuliahmu sudah hampir selesai, umurmu sudah 24 tahun. Apa kamu tidak berniat untuk melengkapi ibadahmu? Dan menemukan tulang rusukmu?” Ucap Mbak Ika ragu.
“Eeehhh...Belum punya calon mbak.” Jawabnya singkat.
“Loh wanita yang pernah kamu ceritakan ke mbak itu bagaimana?”
“Aku juga tak tahu mbak, mungkin dia sudah punya calon. Kalau mbak punya,bolehlah Faruq coba.” Jawabnya pasrah.
“Kamu serius? Apa kamu mau ta’aruf?”
“Insya Allah mbak, jika ini memang terbaik aku nurut saja.”
“Alhamdulillah. Baiklah, mbak akan segera atur pertemuan keluarga kita dan keluarganya. Ini calonnya pilihan bapak. Semoga hatimu mantap dan semoga dialah wanita yang kamu cari. Ini biodata tentang dia, silahkan kamu baca sendiri.” Ujarnya sambil menyerahkan amplop cokelat berisi biodata dan foto dia.
Faruq membuka amplop itu dengan bismillah, hatinya tiba-tiba berdesir tatkala menemukan nama beserta foto Fatimah Az-Zahra di dalamnya. Memorinya kembali berputar pada masa-masa jahiliyah yang begitu membuatnya malu dan sakit hati. Wanita yang dulunya selalu dihina, wanita yang pernah dia sukai ternyata pilihan keluarganya. Tanpa banyak kata Faruq dan keluarganya segera datang meminta Zahra kepada ayah Zahra. Faruq mengucap syukur tatkala dia mengetahui bahwa Zahra menerima lamarannya. Kedua matanya tak lagi tajam penuh perlawanan seperti dahulu, melainkan lebih terlihat bening dan menyejukkan hati.
“Saya terima nikah dan kawinnya, Fatimah Az-Zahra binti Ali Azhari dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai!” Faruq mengucapkan ijab qabul itu dengan disaksikan seluruh semesta alam beserta isinya.
Langit yang semula mendung telah berubah menjadi cerah, secerah hati Faruq yang tak lagi kelabu karena kesendiriannya. Karena telah ada seorang bidadari di sisinya, yang akan dipertahankannya selama Allah mengijinkan.
   ________
“Mas mau punya anak berapa?” tanya Zahra  tiba-tiba, di tengah kebersamaan mereka di sebuah pantai.
“Terserah Allah saja memberinya berapa, yang terpenting kamu mampu melakukannya dik.” Jawab Faruq bijak.
“Mas, aku ingin anak pertama kita perempuan. Biar ada seseorang yang merawatmu jika saya menghadap Allah terlebih dahulu.”
“Walau bagaimanapun, nantinya kan dia juga akan menikah dan mengikuti suaminya? Hayo, bagaimana?”
“Tidak apa-apa mas, karena aku lebih percaya dengan seorang wanita. Wanita itu lebih lembut dan kasih sayangnya terlihat begitu nyata.”
“Kalau begitu, andai mas menikah lagi bagaimana dik?”
Zahra terdiam karena ucapan suaminya, mungkin ada rasa cemburu di hatinya sehingga membuat wajah Zahra terlihat manyun. Ekspresi wajah Zahra membuat Faruq tersenyum geli jika menatap istrinya.
“Lucu banget istriku kalau ngambek. Mas bercanda dik, meski kamu lebih dahulu bertemu Allah, mas akan tetap setia dengan kamu. Mas ingin menjadikanmu satu-satunya bidadari hidupku dan bidadari surgaku nanti.” Jawabnya sembari memegang tangan istrinya begitu erat.
“Terima kasih mas.” Ucap Zahra sambil memeluk suaminya.
Hari-hari mereka menjadi begitu indah dan bahagia. Tak ada hari-hari yang suram selama pernikahan mereka. Tahap demi tahap berpacaran setelah menikah Faruq jalani dengan indah bersama Zahra. Hingga akhirnya hari yang suram itu tiba, Allah menjemput Zahra terlebih dahulu melalui penyakit jantung yang dideritanya. Hari-hari Faruq tak lagi cerah seperti sedia kala, dua tahun bersama dalam indahnya menjalani dan merasakan cinta dalam naungan Allah seakan belum mampu membalas setahun perlakuan buruknya terhadap Zahra. Faruq semakin meneteskan air matanya begitu deras, dia benar-benar kehilangan separuh jiwanya, hatinya benar-benar tak percaya dia akan lebih cepat ditinggalkan wanita yang dicintainya. Tiba-tiba hatinya membujuk dirinya, meminta untuk segera kembali bersimpuh mengingat sang pencipta-Nya. Dia terus menyebut Asma Allah meminta pertolongan agar diberikan kesabaran serta kekuatan menjalani cobaan itu seorang diri. Dia meminta agar segera dipertemukan dengan istri tercintanya dan dibangunkan rumah di Surga-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar