Minggu, 09 November 2014

Cinta dan Luka


Pada bintang yang sosoknya hampir menghilang, aku pernah meletakkan beribu asa. Pada yang seharusnya paling berkesan, aku pernah menanamkan beribu impian bersama dirimu. Pada setiap angan-angan, aku pernah menaruh kisah indah kita di setiap bagian. Karena harapanku pernah sebesar cinta yang pernah kita banggakan. Setelah sekian lama aku melepas cinta akhirnya aku kembali berjabat tangan dengan cinta, itu semua juga karenamu. Pada dirimu, aku meletakkan cintaku, kepercayaanku,segudang harapan dan impian namun dari sanalah ternyata kecewa bermula.
Aku tak pernah menyangka, berbangga adalah sesal yang tertunda. Sepertinya salah, jika berkali-kali demi mengatasnamakan kepercayaan aku mengalah. Memang, selalu ada bayangan sang bintang untuk segala hal dan langkahku. Termasuk diantaranya cinta juga luka. Dan bagiku, kamulah cinta serta lukaku. Sebelum denganmu, tak pernah sejauh ini rasaku mau berjalan bahkan berlari. Sebelum kehadiranmu, tak pernah sedalam ini cinta mampu kurasakan. Sebelum kita bersama, belum pernah bahagia serta sedih mampir begitu lama.
Kemudian, aku teringat kata pepatah yang menjelaskan bahwa, memang selalu ada beberapa keinginan yang tidak sejalan dengan kenyataan. Aku percaya pada Semesta yang membawakan kebahagiaan sekaligus kesedihan, namun juga mampu menjadi pendidik untukku agar bisa menerima keadaan. Walau harus sendirian aku merekatkan kembali kepingan-kepingan pecahan hati akibat kekecewaan. Walau harus sendirian aku menguatkan diri dengan berbagai dukungan yang kubuat sendiri. Namun, selalu aku sertakan sosok sang bintang yang wujudnya hampir menghilang tuk jadi penyemangatku, meski sosok itu hanya bayangan dan kenangan yang tersisa.
Aku pernah merasakan bagaimana pahitnya cinta yang kita rangkai dengan penuh bahagia. Namun berakhir dengan kekecewaan atau mungkin lukanya akan terasa ganda. Kamulah penggerak pintu hati agar terbuka oleh cinta dan pemaksa hati tertutup oleh luka. Dua-duanya kucicipi lewat satu sosok dan satu nama. Aku tak tahu kapan hati ini akan sembuh, atau malah lukanya semakin melepuh. Aku tak tahu masih adakah percaya yang bisa kuberi pada yang nanti akan mengganti setelah kecewa menggerogoti hati.
Apakah cinta begini yang dulu kau janjikan untuk kucicipi? Apa semua pemberi cinta seperti ini? Menyodori bungkusan kebahagiaan, dengan isi penuh racun pembasmi hati. Bukan berakhir bahagia namanya, jika terus menerus kamu memberi kecewa. Padahal angan-angan terlanjur kuterbangkan begitu tinggi, menyentuh langit teratas rencana-rencana yang telah kita sepakati. Nyatanya, kamu bagaikan awal yang justru membuatku ingin mengakhiri. Kamu memperkenalkan aku manisnya cinta, kemudian mengajakku mencicipi pahitnya terluka.
Meski begitu, banyak hal yang harus kamu tahu, bersamamu, bahagia pernah lewat meski waktunya hanya sesaat. Bersamamu, sela-sela jemari seperti menemukan pengisi di antaranya namun hanya sementara. Bersamamu, rindu menemukan titik terakhirnya untuk berlabuh tapi kemudian harus kembali melangkah dengan lunglai. Langkah-langkah kaki masih ingin menujumu, Hatiku pun masih sering menyebut-nyebut namamu, keyakinan pun masih utuh sama seperti dulu. Namun logika sudah enggan bahkan menyuruhku untuk berjalan menjauh darimu.
Ini batas terakhir, kepadamu cinta akan mengalir. Jika kepadamu hati hanya penuh dengan perban disana-sini, aku enggan untuk menjalani dan berharap kembali. Aku undur diri dalam menaruh peduli. Aku angkat kaki atas ruang mimpi yang belum terbenahi. Aku melepaskan jabatan untuk selalu memberi perhatian. Aku bersiap menyudahi tetes air mata yang jatuh di pipi. Jika bukan kepadamu cinta bekerja dengan sempurna, maka aku percaya hati punya ruang bagi yang benar-benar mencintainya. Mungkin dia yang akan mengembalikan senyumku lagi. Dia? Entah dia itu siapa, namun hatiku selalu berharap dia adalah sosokmu yang mau kembali menyayangiku dan mencintaiku tanpa banyak memberikan janji namun langsung memberikan bukti.
Dapat kupastikan bahwa, tersakiti adalah masa transisi untuk mendewasakan hati. Tersakiti mungkin adalah perantara bagi siklus bahagia selanjutnya. Tersakiti itu akan menjadi sebuah kenikmatan jika kita mau mengikhlaskan semua yang telah pergi dan tetap tersenyum memandang indahnya dunia meski terkadang senyum itu hanya topeng bagi hati yang tersakiti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar