Rabu, 03 Desember 2014

Rabbi, Maaf Kami Sibuk


بسم الله الرحمن الرحيم

Dini hari ini, tanggal 03 Desember 2014 saya kembali berhasil merangkai beberapa kalimat yang menghasilkan coretan cupu ini, entah apa yang saya rasakan saat ini, yang pasti mata saya terlalu sulit diajak tidur karena selalu teringat dosa-dosa yang begitu menumpuk, membuat saya insomnia berkepanjangan. Mari diam dan renungkan sejenak setiap kata per kata dari coretan cupu ini *jiaahh bahasamu Li* :D Selamat membaca J

Sering bahkan sudah terlalu sering kita mendengar kata “bahagia“, dan seberapa sering kita temukan bahwa mereka yang sedang berbahagia, lupa siapa yang memberinya kebahagiaan, hingga Allah kembali menegurnya dengan luka. Saya pernah menonton film RUSH, yang menceritakan tentang perjalanan karier dan kehidupan Niki Lauda. Pada film itu, terdapat satu kata yang begitu susah dicerna maksud kalimatnya “Bahagia itu melemahkan”. Saya agak kebingungan dalam mencerna maksud kalimat ini, bukankah semua orang inginkan kebahahagiaan pada hidupnya? Lantas, apa yang membuat bahagia itu melemahkan?
Pertanyaan tersebut terngiang-ngiang di benak saya, kuajukan sendiri pada diri saya. Setelah lama kupahami, akhirnya saya mengerti maksud dari kalimat itu. Ternyata begini, seberapa sering ketika rasa bahagia menghampiri, ibadah saya tidak sekencang saat sedang patah hati. Seberapa sering saya menjumpai mereka yang tak punya uang, mendirikan sepertiga malamnya tiada henti berharap mendapatkan rezeki, namun setelah kaya mereka lupa bahwa sebagian dari hartanya adalah milik fakir yang Allah titipkan lewat dia. Ada juga, para pelajar yang hanya mengingat Allah disaat mereka hendak melaksanakn ujian sekolahnya, senin kamis nya tiada henti, dhuha dan tahajud nya jalan terus, tapi saat mereka mampu mendapat nilai bagus lalu diterima di SMA/Universitas favoritnya mereka menjadi jarang menghadap Allah. Nah inilah yang disebut bahagia itu melemahkan. *Astaghfirullah*
Saya jadi teringat isi dari buku yang pernah saya baca, judulnya “Tuhan, maaf kami sedang sibuk.” Ada beberapa kalimat yang begitu menyentuh hati dan qolbu saya, seperti ini kalimatnya, “Tuhan..maaf, kami orang-orang sibuk, kami memang takut akan neraka-Mu. Tapi, kami kesulitan mencari dan memilah waktu untuk mengerjakan amalan-amalan yang menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang mengharapkan Surga-Mu, tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.” Wuihh makjleb tuh kalimat. Mari kita kembali bertanya pada diri yang lemah ini, yang kadang tidak mampu berterima kasih pada Allah, apalagi kalau sedang bahagia.
Inilah ciri khas manusia termasuk saya, lemah ketika bahagia, loyo ketika kenyang, sibuk buat Allah tapi maunya doa dikabulkan semua. Begitu sulit untuk berterima kasih atas nikmat yang didapatnya, malah sibuk mencari nikmat yang belum datang. Astaghfirullah betapa sempitnya hati saya sebagai manusia, menuntut, dan terus menuntut, lupa bersyukur, mudah mengeluh, kurang bisa mengendalikan amarah, dan kurang bisa bersabar. Padahal amarah itu yang akan membawa kita ke neraka, sedangkan sabar yang akan membawa kita ke surga.
Tersadar diri ini penuh dengan kekurangan dan begitu lemah tentunya, maka harus belajar lagi dan terus belajar lagi. Belajar memahami takdir, belajar memahami maunya Allah, belajar menjadi hamba yang baik dan taat. Memang sih berkata itu tak semudah melakukan, tapi setidaknya saya sedang berusaha menjadi seperti yang Allah inginkan, menyusun harapan ketika berpulang nanti, maaf sudah saya dapatkan dari-Nya, ampunan pun sudah saya pegang, serta syukur sudah saya torehkan J
Nah buat kamu yang sedang berbahagia, jangan terlena dan jangan larut dalam kebahagiaan itu sehingga membuatmu lupa pada Allah. Ingatlah, bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah ada diakhirat. Mari sebelum bobo, kita tanyakan dan renungkan pada diri sendiri,misalnya seperti ini yang selalu saya renungkan,  “Andai ini tidur terakhir saya, sudah siapkah saya menghadap Allah?? Andai ini malam terakhir saya, dosa apa yang sangat ingin saya mintakan ampunan? Andai malam ini terakhir saya, amalan apa yang dapat saya lakukan yang sanggup menyelamatkan saya dari siksa kubur?”
Selamat melakukan perenungan diri dan berdialog dengan diri sendiri J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar