![]() |
بسم الله الرحمن الرحيم
|
Dini hari ini, tanggal 03 Desember 2014 saya kembali berhasil merangkai beberapa kalimat yang menghasilkan coretan
cupu ini, entah apa yang saya rasakan saat ini, yang pasti mata saya
terlalu sulit diajak tidur karena selalu teringat dosa-dosa yang begitu
menumpuk, membuat saya insomnia berkepanjangan. Mari diam dan renungkan sejenak setiap
kata per kata dari coretan cupu ini *jiaahh bahasamu Li* :D Selamat membaca J
Sering bahkan sudah
terlalu sering kita mendengar kata “bahagia“, dan seberapa
sering kita temukan bahwa mereka yang sedang berbahagia,
lupa siapa yang memberinya kebahagiaan, hingga Allah kembali
menegurnya dengan luka. Saya pernah menonton film RUSH, yang menceritakan
tentang perjalanan karier dan kehidupan Niki Lauda. Pada film itu, terdapat
satu kata yang begitu susah dicerna maksud kalimatnya “Bahagia
itu melemahkan”. Saya agak kebingungan dalam mencerna maksud
kalimat ini, bukankah semua orang inginkan kebahahagiaan pada hidupnya? Lantas,
apa yang membuat bahagia itu melemahkan?
Pertanyaan
tersebut terngiang-ngiang di benak saya, kuajukan sendiri pada diri saya.
Setelah lama kupahami, akhirnya saya mengerti maksud dari kalimat itu. Ternyata
begini, seberapa sering ketika rasa bahagia menghampiri, ibadah saya tidak
sekencang saat sedang patah hati. Seberapa sering saya menjumpai mereka yang
tak punya uang, mendirikan sepertiga malamnya tiada henti berharap mendapatkan
rezeki, namun setelah kaya mereka lupa bahwa sebagian dari hartanya adalah
milik fakir yang Allah titipkan lewat dia. Ada juga, para pelajar yang hanya
mengingat Allah disaat mereka hendak melaksanakn ujian sekolahnya, senin kamis
nya tiada henti, dhuha dan tahajud nya jalan terus, tapi saat mereka mampu
mendapat nilai bagus lalu diterima di SMA/Universitas favoritnya mereka menjadi
jarang menghadap Allah. Nah inilah yang
disebut bahagia itu melemahkan. *Astaghfirullah*
Saya jadi
teringat isi dari buku yang pernah saya baca, judulnya “Tuhan, maaf kami
sedang sibuk.” Ada beberapa kalimat yang begitu menyentuh hati dan qolbu
saya, seperti ini kalimatnya, “Tuhan..maaf, kami orang-orang sibuk, kami memang
takut akan neraka-Mu. Tapi, kami kesulitan mencari dan memilah waktu untuk
mengerjakan amalan-amalan yang menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang
mengharapkan Surga-Mu, tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal
menuju surga-Mu.” Wuihh makjleb tuh kalimat. Mari kita kembali bertanya pada
diri yang lemah ini, yang kadang tidak mampu berterima kasih pada Allah,
apalagi kalau sedang bahagia.
Inilah ciri
khas manusia termasuk saya, lemah ketika bahagia, loyo ketika kenyang, sibuk
buat Allah tapi maunya doa dikabulkan semua. Begitu sulit untuk berterima kasih
atas nikmat yang didapatnya, malah sibuk mencari nikmat yang belum datang.
Astaghfirullah betapa sempitnya hati saya sebagai manusia, menuntut, dan terus
menuntut, lupa bersyukur, mudah mengeluh, kurang bisa mengendalikan amarah, dan
kurang bisa bersabar. Padahal amarah itu yang akan membawa kita ke neraka,
sedangkan sabar yang akan membawa kita ke surga.
Tersadar diri
ini penuh dengan kekurangan dan begitu lemah tentunya, maka harus belajar lagi
dan terus belajar lagi. Belajar memahami takdir, belajar memahami maunya Allah,
belajar menjadi hamba yang baik dan taat. Memang sih berkata itu tak semudah
melakukan, tapi setidaknya saya sedang berusaha menjadi seperti yang Allah
inginkan, menyusun harapan ketika berpulang nanti, maaf sudah saya dapatkan
dari-Nya, ampunan pun sudah saya pegang, serta syukur
sudah saya torehkan J
Nah
buat kamu yang sedang berbahagia, jangan terlena dan jangan larut dalam
kebahagiaan itu sehingga membuatmu lupa pada Allah. Ingatlah, bahwa semua yang
ada di dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah ada diakhirat. Mari
sebelum bobo, kita tanyakan dan renungkan pada diri sendiri,misalnya seperti
ini yang selalu saya renungkan, “Andai
ini tidur terakhir saya, sudah siapkah saya menghadap Allah?? Andai ini malam
terakhir saya, dosa apa yang sangat ingin saya mintakan ampunan? Andai malam
ini terakhir saya, amalan apa yang dapat saya lakukan yang sanggup
menyelamatkan saya dari siksa kubur?”
Selamat
melakukan perenungan diri dan berdialog dengan diri sendiri J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar