Lingkaran itu menyerupai bulan. Iya, memang bulan. Ternyata hari
kini telah malam. Di satu malam, detak jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat
dari keadaan normal. Aku terdiam, terpaku melihat di sekitar. Tembok-tembok
yang memagariku, membuat pikiranku semakin sempit. Aku benci keadaan ini. Aku
butuh ruang. Ruang yang terang dan lapang. Tapi, hatiku bertanya. Bagaimana
dengan pagi? Dimanakah pagi? Kapan engkau kembali? Aku merindukanmu, sungguh!
Aku rindukan sentuhan hangatmu. Masihkah pagi itu menunggu ku disana? Tunggu
aku! Malam ini, dia akan segera pergi. Datanglah dan jemput aku disini. Aku
butuhkanmu, pagi. Gantikan bulan itu menjadi mentari. Jadikan kelam ini sebuah
cahaya di pagi nanti. Yaa, aku rindukan pagi.
Gelisahku mengajak berdamai dengan waktu. Tapi, aku tak bisa. Ku
rebahkan diri dan ku pejamkan mata. Apa itu? Batinku bergumam. Dalam pejamanku
sesosok bayangan hadir. Bayangan yang ku harapkan jadi nyata. Taukah engkau?
Lama sekali aku menunggumu disini. Tapi, dimana? Dimana kau kini? Tidak kah kau
ingat pada ku?
Berjuta pertanyaan dan ketakutan menyergapku. Seakan ingin
menelanku bulat-bulat tanpa jejak. Aku kini bangun dari tempat tidurku. Butiran
peluh kini menggenangi dahiku. Pertanda ketakutan itu semakin membunuhku. Tak
mungkin rasanya jika ku paksakan pejamkan mata ini. Ku lihat lagi ke langit
yang dibatasi oleh atap putih transparan. Bulan, ternyata itu masih kau. Kenapa
selalu kau yang menghantui malamku? Bisakah kau pergi sesaat dariku? Gantikan
dirimu dengan mentari. Aku mohon!
Hanya mentari yang dapat hangatkan aku. Membawa duniaku kembali
dan bernyanyi. Mentari selalu tertawa dan membagi kebahagiaannya padaku. Pernah
suatu saat, di bawah sinar mentari aku bertemu dengan bayangan yang datang
dalam pejamanku malam itu. Bayangan yang selalu aku rindukan hadirnya. Dia
datang seolah membawa dunia baru untukku. Disini, dia di nadiku selalu
memberikan getaran yang membuat ku masih bertahan hingga detik ini. Namun,
ketika malam datang dan mentari digantikan bulan, aku tak pernah lagi mendengar
kabar dari bayangan itu. Nadiku tiba-tiba berhenti berdetak. Tapi, bukan mati.
Hanya saja sedikit melambat. Dunia tiba-tiba menjadi gelap. Mulai saat itulah,
aku membencimu, bulan. Karena engkau mentari pergi. Walaupun begitu, aku yakin
mentari pergi hanya untuk sesaat. Mentari pergi bersembunyi dari malam yang
hitam pekat.
Masih di bawah sinar rembulan. Aku berdendang dengan sepi. Aku
menunggu mentari. Mentari, tunggulah aku. Bulan ini tak akan lama disini.
Karena yang ku inginkan hanya kau. Hanya mentari yang mempertemukanku denganmu.
Bayangan dalam pejamanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar