Selasa, 17 Februari 2015

Takdir Allah


Takdir? Diakah juru kunci pemberi dan pemberhenti setiap fungsi hati saat cinta mengalir? Sekuat itukah kehadirannya hingga kini aku masih menunggu saat dirinya tiba?
Dari begitu banyak peristiwa, takdir telah ada. Bukankah saat pertama aku bertemu dengan objek yang kini melebatkan rindu, takdir juga ikut hadir? Salahkah jika hingga detik ini aku masih menunggu keberadaan takdir? Apakah takdir absen untuk mampir dalam perjalanan sampai cerita ini berakhir?
Padanya telah kupercayakan rasa yang sejak awal masih saja ada,utuh,bahkan bertambah. Padanya aku tahu, kelak akan dipertemukan dengan yang benar-benar sudah menungguku. Tapi kini, giliran aku yang sedang menunggunya datang, tapi bukan ke arah sini. Datanglah menuju kepada dia yang aku cinta, lalu sama-ratakan rasa yang kami punya.
Ketika takdir telah menuntun, tak ada kuasa kita untuk mencegah rasa itu datang berkunjung. Hati berdoa, semoga dia tak jatuh sendirian. Semoga milikmu pun terjatuh bersamaan. Kemudian saat ini, kuharap sebenarnya kita tengah saling menunggu kesempatan. Sebab ada debar yang tak mampu kujelaskan, namun cukup sanggup membangkitkan rindu tak berkesudahan. Mungkin kamu tak akan pernah mengetahui, betapa sebuah hati sedang dikelabui perasaannya sendiri. Mungkin kamu juga tak akan pernah menyadari, betapa sebuah hati sedang berjuang melawan logika, agar denganmu dia bisa bersama. Menumbuhkan debar di dadaku itu terlalu mudah, yang sulit adalah menebak dengan benar ke mana langkahmu itu terarah. Apakah kepadaku? Ataukah kepada selain aku?
Senyummu itulah kunci jawabnya, namun tak pernah kamu menatap sepasang mataku yang penuh tanda tanya ini. Bagaimanakah mengambil hati sang takdir agar nama kitalah yang dipasangkan sebagai dua yang nantinya takkan terpisahkan?
Jika saja waktu bisa membantu mempercepat gerakmu untuk menuju ke tempatku, mungkin ini akan menjadi kerja sama termanis yang pernah ada. Memang perlu ada beberapa kerjasama untuk menyatukan kita selain lewat doa. Setidaknya aku ingin meminta agar ketika gelas berisikan nama-nama yang nantinya terkocok akan keluar sebuah kebersamaan kita. Lalu dengan sendirinya rinduku akan mencolek pipimu dan menyadarkanmu bahwa ia perlu teman. Membayangkan beberapa hal tentang kita yang masih berbungkus sebuah pinta dalam plastik sederhana sangatlah menenangkan jiwa. Aku bahagia, bahkan sebelum saat itu tiba.
Pada hari-hari yang juga sudah kulewatkan, ada harapan tentang kesamaan perasaan. Di waktu-waktu yang diisi kesunyian, ada keinginan agar kita bisa bersama menjalani keseharian. Bertemankan rindu tak juga membuatku akrab dengan waktu. Menunggu bukanlah kemampuan atau juga kemauanku. Tapi entahlah aku selalu memberikan pengecualian untuk segala hal tentang kamu.
Tak pernah terpikir olehku, bagaimana bisa sebuah kejadian biasa kelak akan membuatku luar biasa menginginkanmu? Dari situ, kukira cinta adalah sebuah permainan antara dua takdir yang berpapasan. Mereka beradu debar di lapang dada masing-masing. Namun anehnya, siapapun yang paling pintar menjaga debar dengan sabar, tetap akan pulang membawa hadiah penasaran. Andai mempertemukan dua hati dalam cinta semudah cerita-cerita bahagia, tak mungkin kiranya aku cemas akan luka yang bisa datang kapan saja. Namun kita hanyalah sepasang yang mudah terbawa takdir, sulit bagi hati kita untuk saling menafsir. Hati begitu mudah dibawa naik turun pergi dengan berbagai presepsi dan prediksi. Siapa lagi jika bukan kamu sebagai dalam dibalik setiap pengecualian dan pengendalian hatiku?
Aku tak bisa menyalahkan sesiapa, bahkan takdir pun telah diberikan pembebasan dari suatu kesalahan oleh Tuhan. Aku hanya salah satu dari milyaran manusia yang menaruh percaya pada cinta diatas segala ketidakpastian yang ada. Buatku, hati akan selalu berperkara asalkan masih ada segenggam percaya.
Jika suatu saat, kamu terpanggil oleh takdir bersamaku, kuharap cinta juga sudah bersamamu ikut mengalir. Lalu terlahirlah sepasang kembaran perasaan. Namun jika memang aku masih harus terus menunggu, semoga lama tidak perlu menjadi sebuah penghalang bagiku. Semoga angin akan mengarahkanmu menjadi sedekat yang aku ingin. Semoga takdir akan membawamu kepadaku seperti yang aku mau. Tentang harap yang tak mengenal kata lenyap, mudah-mudahan akan ada saatnya untuk kita menyatukan perasaan.
Kuharap senyuman yang aku miliki mampu memberikan getaran yang sama seperti yang kamu punya. Kuharap kehadiranku dapat menjadi sesuatu yang juga sedang kamu tunggu-tunggu. Kuharap permintaanku agar kita dapat menyatu sebagai sepasang kekasih hingga di Surga tidaklah begitu keterlaluan untuk bisa Tuhan kabulkan.
Dari balik sekat kaca pemisah takdir kita, aku memanggilmu mendekat. Berharap, berdoa, berupaya, agar cintaku sampai dengan selamat, di alamat yang tepat yaitu hatimu. Semoga kiranya Tuhan bersedia memberi kata ‘iya’, agar tumpukan rindu serta penantian-penantianku, tak akan sia-sia.

Minggu, 08 Februari 2015

Sisa Umur


Seperti yang diketahui bahwa kemarin lusa*6 Februari* jatah hidup saya di bumi ALLAH telah berkurang, istilah kerennya kemarin lusa adalah hari lahir saya, orang Sidoarjo bilang sih “birthday”. Setiap kali ulang tahun, saya selalu merenung “kemana sisa umurku ini akan kubawa?” karena tak lagi berguna apa yang telah berlalu karena waktu tak akan kembali, ya lebih penting memikirkan apa yang selanjutnya akan saya lakukan di sisa umur ini.
Bercermin pada kehidupan zaman sekarang dan kebetulan saya sedang berada di dalam akhir zaman ini, zaman dimana manusia tak punya lagi banyak waktu untuk ibadah, dengan alasan “duh, gak ada waktu” padahal ALLAH memberikan 24 jam itu sama rata ke semua orang, ke ustadz, ke si miskin dan ke si kaya, jadi siapa yang lambat dan siapa yang tak mampu mengisi waktu dengan kebaikan-kebaikan, sedang berseliweran di telinga saya “manusia yang paling baik adalah yang berguna bagi orang banyak” sedangkan saya? *merenung* :’(
Merenung untuk segala dosa dan khilaf di masa lalu, saya mohon ampunan kepada ALLAH dan maaf kepada-Nya , semoga disaat napas saya berhenti, saya telah mendapat ampunan dan maaf dari orang-orang yang pernah saya lukai hatinya “maafin saya ya semuanyaL
Merenung untuk mengisi waktu yang tersisa ini, untuk cita-cita besar di masa yang akan datang, bisa menjadi penulis yang muda bahkan lebih muda dari Dwita Sari, menjadi penulis best seller mengalahkan Andrea Hirata, menjadi Ibu bagi anak-anak pemulung, fakir, yatim, dhuafa dan anak anak yang menjadikan saya their shoulder to cry on, menjadi madrasah pertama dan terbaik bagi anak-anak yang lahir dari rahim saya, bisa pergi haji bersama orang tua dan suami saya kelak *sedangkan lulus sekolah aja belum, kuliah juga belum, menikah dan punya anak ya tentu masih jauh* , semoga diri ini di beri kekuatan dan kemudahan untuk menggapainya dan semoga saya mampu memantaskan diri untuk memperolah semua itu. 
Merenung untuk semua tindakan konyol dan ngaco di masa lalu, untuk segala kesombongan yang pernah melekat di jiwa saya, semoga bisa menjadi pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi di waktu yang tersisa ini.
            Merenung untuk kebahagiaan, rahmat kasih sayang ALLAH yang begitu besar tak terkira, kehadiran Ibu,Ayah,Adik,Sahabat,Mas *tinggal bayangannya* serta kehadiran orang-orang yang begitu menyayangi saya, “special thanks untuk seseorang yang sudah rela menembus derasnya hujan dan pekatnya malam hanya demi memberikanku sebuah kejutan tak terduga dan merelakan sedikit waktunya untuk menemaniku di hari special, meskipun ujung-ujungnya dia harus mengukir kesedihan di hati ini.”, untuk kue dari seseorang yang special dan tumpeng dari keluarga, untuk beberapa kado yang telah saya terima. Ah Alhamdulillah yang tak terkira, terima kasih ALLAH, terima kasih telah menghadirkan segala cinta dan kebahagiaan dalam hidup saya. Meskipun kebahagiaan itu kini hanya tinggal kenangan dan berubah menjadi kesedihan yang cukup menyakitkan.
            Iya itulah hari specialku yang berjalan sangat tidak special bahkan begitu menyakitkan. Yang harus digaris bawahi dari bulan ini adalah bahwa kebahagiaan dan kesedihan letaknya sangat berdekatan bahkan berdampingan J *Ya namanya aja hidup Li susah senang ya harus tetap dijalani dengan sabar dan ikhlas.*
Hidup memang singkat dan terlalu singkat jika di isi dengan hal yang sia-sia, waktu tak akan akan berguna lagi ketika saya sibuk dengan urusan dunia, jadi ingat pesan guru ngaji saya “Li, ketika kita sibuk dengan urusan dunia maka ALLAH akan menyibukkan kita dengan hal yang sia-sia karena dunia hanyalah pijakan kita sesaat, sedangkan yang kekal hanyalah di akhirat.”  Astaghfirullah, takutnya jika ALLAH marah karena saya tak lagi mengejar akhirat, padahal janji ALLAH adalah “ketika saya mengejar akhirat maka dunia akan mengikuti” dan ALLAH tidak pernah ingkar janji bukan? J
Semoga di tahun ini dan tahun selanjutnya akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yang sehat selalu, dilancarkan segala urusanku baik urusan dunia maupun akhirat dan selalu dalam lindungan-Nya . Aamiin J Tapi, inipun jika ALLAH masih menitipkan napas kepadaku, jika tak ada lagi, semoga kepulanganku membawa bekal yang pantas untuk menghadap sang ILLAHI RABBI, entah sampai kapan, esok? Ataukah lusa? Tapi yang pasti napas akan terhenti dan kematian akan menghampiri. *Ah bila tiba*
Umur memang terus berkurang dari hari ke hari, semoga di sisa waktu yang ada, kehidupan akan lebih baik dan bermakna bahkan dalam kehidupan setelah kematian sekali pun… 
Happy milad Laili “jadikan kebencian orang-orang sebagai motivasi untuk memperbaiki diri dan jadikan segala cinta dari orang-orang yang mencintaimu sebagai inspirasi untuk terus berbagi, karena hidup adalah siang dan malam, dan kita tidak bisa membuat semua orang suka dan mencintai kita bukan?”
Ah … waktu berjalan begitu cepat !!!

Kamis, 29 Januari 2015

Malu sama daun!


Thursday, 29 January 2015    01.15 a.m
  
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”

Pepatah diatas, yang diungkapkan oleh Tere Liye begitu menampar saya di pagi yang gerimis ini, terbayang oleh saya betapa ikhlasnya sang daun, meski dijatuhkan oleh angin dia tidak pernah marah, bahkan tumbuh lagi yang baru, semakin banyak yang jatuh semakin tumbuh daun-daun baru, tanpa melawan, dan begitulah seharusnya saya sebagai manusia. Patuh pada ketentuan Allah, tanpa melawan, karena semakin saya lawan maka akan semakin sengsara hidup saya, sibuk menolak dan memberontak, sibuk mencari pembenaran atas kesalahan yang terjadi, sibuk berkeluh kesah atas segala kehilangan, damn! it’s true kalau kata twitter mah, hehehe … :D
Ada yang bilang bahwa hidup ini seperti membaca novel , dimana tidak semua halaman berisi cerita bahagia, kalau halaman yang kita baca sekarang ini terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, baca aja terus, nanti juga bakal ada halaman yang bahagia, ada halaman yang akan membuat kita tersenyum bahagia, terbahak bahak lucu, terus saja membaca jangan sampai berakhir pada satu titik, jadikan setiap kejadian hanya sekedar kejadian karena yang bikin hidup ini rumit sebenarnya diri sendiri, pikiran sendiri yang melabelkan kalau jatuh cinta itu bahagia kalau patah hati itu sesak napas, padahal jatuh dan patah tak ada bedanya loh … kan ada Allah yang akan senantiasa membuat hari-hari lebih bahagia tanpa jatuh ataupun patah !!
Belajar dari suatu kehilangan, kehilangan yang sering saya alami, entah itu kehilangan sahabat, tante, nenek, kakek , ataupun pacar *nahloh* . Saya pernah merasa menjadi orang yang paling sengsara dan menderita, merasa bahwa Allah itu tak adil, merasa iri dengan teman-teman yang menurut saya hidupnya penuh kebahgiaan. Seringnya curhat ke teman yang pada akhirnya lelah menjadi pundak saya untuk menangis, kemudian satu persatu berguguran seperti daun, hilang tertiup angin, menguap entah kemana, dan pada akhirnya saya sadari bahwa hanya tinggal saya. Yang jadi pertanyaannya, apa iya hanya tinggal saya? Ternyata tidak, saat saya sendiri justru Allah hadir dengan syahdu, pada malam-malam sujud panjang saya, dan sedikit demi sedikit saya mulai merasakan tak ada lagi yang saya butuhkan kecuali Allah. Saya egois? Kurasa enggak tuh !! Manusia memang makhluk sosial termasuk saya, tapi disaat sendiri , Allah ternyata sesuatu yang sangat saya butuhkan, saya dekati terus Allah, kemudian Allah memberikan sahabat-sahabat terbaik untuk mendampingi saya sebagai pengganti teman-teman yang jatuh berguguran, dan tak tanggung-tanggung Allah juga memberikan semua yang saya butuhkan untuk saya cintai, dan mereka yang juga butuh cinta saya, sungguh Allah hanya akan memberikan cinta yang saya butuhkan agar kami semua saling membutuhkan, bukan cinta yang saya inginkan, karena yang saya inginkan belum tentu saya butuhkan. Satu lagi yang diluar dugaanku, Allah telah mengirimkan sosok kakak yang luar biasa, dialah pengubah awan hitam dalam hidupku menjadi mentari dan pelangi yang terus bersinar dan berwarna J Thanks Allah hidupku begitu asyik J
Jadi biarkan daun jatuh terbawa angin, biarkan embun menguap terganti matahari, biarkan malam dan siang saling berlalu, kita hanya menjalani takdir, baik buruk, indah luka semua sama ketika Allah menjadi sandaran …
So one last cry !! Selamat datang gerimis, dinginmu begitu menyejukkan J
Menangis haru untuk masa kecil yang penuh kebahagiaan. Menangis kecewa untuk masa remaja yang telah kubuang sia-sia. menangis bahagia untuk hidupku saat ini, yang kurasa jauh lebih baik dari sebelumnya J

Rabu, 14 Januari 2015

Separuh Jalan Menuju Hatimu :')



Terkadang ketika terlalu mencinta, seringkali kita terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya. Menujumu, aku sudah separuh jalan. Namun separuh hatimu saja seakan tak mungkin aku dapatkan. Terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Aku menyadari bahwa kamu sama sekali tidak mengerti akan tanda-tanda. Lalu haruskah kita yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, menemui kata selesai?
Kusebut kamu debar tanpa usai. Sebab meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian. Sebab untukmu aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati. Aku mengejarmu, kamu mengejar yang bukan aku. Kita seperti berlari dalam lingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku.
Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam. Sempatkah aku untuk bertamu walau tak lebih lama dari waktu-waktu yang telah berlalu? Sebab sama seperti kamu yang selalu berkunjung tanpa memperdulikan logika dan hati yang sedang beradu. Karena di atas segala yang sudah ada, hanya kamu yang kudamba.
Pernah kucoba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas di benakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkanmu sedalam itu. Aku pernah melupakan harga diri hanya demi mendapatkanmu di sisi. Aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu yang sejati.
Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja jika seperti itu.
Dan kamu di sana, aku tidak tahu sedang memikirkan apa. Entah di bagian mana aku di sepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu, yang tak pernah terlintas meski seujung kuku sekalipun. Ada suara-suara yang tidak dengan hati ingin kau dengar, ada senyuman-senyuman yang di matamu tidak begitu bersinar. Pada langkah-langkahku yang bahkan sudah goyah, kamu pernah menjadi penunjuk arah..
Tentang tujuan hati yang selalu ada namamu tertulis, hanya kamu sumber kenangan manis. Tentang gores luka sisa perasaan yang tersia-sia, hanya kamu satu-satunya penghilang dan pembawa bahagia. Ini bukan cinta buta. Ini hanya cinta yang terlalu menginginkan sebuah ‘kita’ dan kebersamaan.
Akankah semua asa menjadi nyata? Ataukah akan tetap percuma bersemayam pada segala tumpukan doa?
Padamu aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab. Padamu aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita. Pada sebuah arah putar balik, aku memaksakannya lalu justru berhenti di satu titik. Memupuk asa dan keyakinan bahwa menunggumu adalah pilihan yang terbaik. Entah akan sampai kapan, mungkin hingga pada nantinya kamu menyadari segala perasaan-perasaan dan berkeinginan untuk membuka pintu hati secara perlahan. Ah entah kapan—”

Selasa, 13 Januari 2015

Terhenti tanpa memiliki


Pada pertukaran rasa yang begitu tak seimbang, aku menaruh bimbang. Ketika meneruskan hanyalah berarti menambah perih pada luka lainnya, dan berhenti juga tak menyembuhkan apa-apa. Menaruh harap pada waktu yang akan menjawab, mungkin saja percuma, sebab hatimu sudah ada pemiliknya. Sedangkan aku, hanya tamu yang  diundang pada sedikit kesempatan saja. Atau mungkin aku hanya diundang saat kau bermasalah dengannya.
Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh karena tahu kau sudah ada yang memiliki. Kornea seperti tercelik pada realita. Tadinya pinta bergegas menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu menabrak dinding negeri utopia, menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini agar tak menyakiti sesiapapun juga. Andai pertemuan kita tak berbentur pada garis segitiga yang menyatukan aku, kamu, lalu dia pada sudut-sudutnya.
Pada ketiba-tibaan datangnya sebuah rasa, aku memupuk asa. Seakan tidak peduli, bahwa bagian kosong di hatimu sudah ada yang menduduki. Juga tak ingin ambil pusing dengan kenyataan yang mengharuskan kita berada pada jalannya masing-masing. Mungkin sebenarnya ada garis tak kasat mata yang menghalangi agar aku tidak melangkah lebih jauh lagi. Namun aku memilih untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaan hal tersebut.
RASA
Empat huruf yang biasa-biasa saja namun bisa mematahkan sebuah logika. Hati tak pernah memilih kepada siapa ia akan diambil alih, yang aku tahu aku jatuh cinta pada pandangan pertama hingga seterusnya. Pada sebuah keramaian dan kamu menjadi pusat perhatian di atas panggung sedang aku hanya duduk di pojokkan, menyaksikanmu dari belakang panggung. Siapa sangka kamu yang seperti lampu, pada saat setelah turun hujan memanggil laron untuk menari di dekatnya malah menghampiriku. Kita pecah dalam perbincangan tentang banyak hal hingga kembali menempati pada titik kenyamanan. Segalanya aku lakukan dengan beberapa kali melakukan penolakan terhadap hatiku sendiri, kamu telah bersamanya dan seharusnya aku tahu diri. Tapi kenyataannya hanya dengan tatapan tenang luar biasa pertahananku runtuh seketika.
Bukan salah hati, jika sebuah rasa mampu mengundang rindu setengah mati. Bukan pula salah hati, jika sebuah rasa kelak menjadi alasan ada rasa yang tersakiti. Nyatanya, cinta memang Tuhan ciptakan dengan mata yang buta arah. Bisa menuju siapapun, bisa terjatuh di manapun, dan bisa terjadi kapanpun.
Sebenarnya aku sudah lelah menjatuhkan cinta pada hati yang salah. Aku juga ingin rasaku berbalas, bukan terus menerus berbatas. Harus meminta seperti apa lagi, agar hatiku yang masih kutitipkan padamu, bersedia pulang kembali? Karena setiap kubiarkan perasaan-perasaan ini tinggal, aku takut lukaku akan semakin kekal. Namun saat kupaksakan untuk pergi melangkah, masih ada ketidak relaan dalam hati ini. Padahal, bukannya tak kucoba mendayung perahu gerakku keluar dari zona segitigamu, tapi setiap gerikmu merangkul rasaku agar tetap disitu. Posisiku selalu serba salah. Di sisi diri, aku tak ingin kau dirangkul oleh orang yang salah. Karena hati ini bisa membahagiakanmu dengan berlipat kali dari yang ia beri. Tapi disisi hati, aku akan menjadi sangat bodoh jika terus berusaha mengejarmu yang sudah jelas tak sedikitpun menyayangiku, aku juga sangat salah jika berulah menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian.
Tak mungkin menumpukkan luka dengan sesuka demi kebahagiaanku semata. Pada akhirnya, aku akan meminum racun air mataku sendiri karena tak berdaya meraih kamu agar berada di sisiku. Sewujud cinta tak pernah tahu dengan pasti di mana ia semestinya berada. Karena bukankah ia tumbuh begitu saja? Ini bukan pilihannya jika kemudian ia berada di antara sepasang yang sedang sebenar-benarnya merindukan rasanya pulang. Ini di luar kemampuannya, jika ia justru menjadi sosok ketiga. Sepasang mata yang tanpa henti ia tatap, mungkin karena di situlah ia merasa sudah menemukan jawab. Hingga kemudian kenyataan menjadikannya lenyap. Kemanakah ia harus melangkah? Ketika untuk menetap adalah hal yang tidak mungkin, untuk meninggalkannya merupakan sebuah langkah yang begitu berat.
Begitu banyak pertanyaan terjun bebas ke kepalaku tanpa jawaban yang sejatinya aku tidak tahu. Yang aku tahu aku terlanjur menyayangimu, tapi akan begitu rumit dalam realita. Setiap hari aku harus menenangkan rindu yang berteriak mencari dimana tuannya, karena sejatinya tuannya tak juga merasakan rindu yang sama. Kamu bersamanya sejak kemarin hingga hari ini, sedang aku selalu menjadi sendal jepit yang meski nyaman namun tak akan pernah digunakan dalam acara-acara peringatan. Kamu tahu aku ada, kamu mencariku saat bertengkar dengannya lalu aku dengan mati-matian harus menahan diri bahwa orang yang aku cintai sedang bercerita banyak tentang orang yang dia cintai. Lagi-lagi aku tidak berdaya, aku menurunkan kasta, jika memilikimu itu hal yang sulit, maka ijinkan aku ada di saat kau sulit.
Setoples air mata telah kutampung dengan percuma, sebab tak akan memberi pengaruh apa-apa bagi hatimu yang hanya untuknya. Sepenggal harapan hati hanya ingin istirahat menanti, setelah berjuta hari menunggumu di sini. Mencintamu itu bukan penyesalan, namun nyatanya tak ada cinta yang tak ingin diberi balasan.
Yang kuingin kebahagiaan, seperti kala sepasang mataku menyaksikan kalian berbahagia dan berduaan. Yang kuingin kepastian, tentang tarik menarik asa dan rasa yang seperti tak ada ujungnya. Yang kuingin cinta yang sederhana, cukup sederhana hingga aku tak perlu meminta apa-apa untuk dapat merasa bahagia, hingga aku tak perlu merasa kecewa sebab keinginan tak sejalan dengan kenyataan, hingga aku tahu rasanya dicinta tanpa perlu mengiba.
Biarkan perasaan ini perlahan mengikuti aliran tanpa terlihat sebagai kesalahan, karena menurutku ini bagian dari pelajaran dalam perjalanan. Pada siapapun ia takkan mungkin menurut, sampai waktu yang tepat membiarkan ia menyurut. Meski hati begitu menginginkan, tapi aku tahu batas-batas yang tak bisa dipanjati. Entah siapa yang akan menggesermu dari segala ketetapan-ketetapan perasaan, tapi aku hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan. Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk keluar dari segitigamu, lalu silahkan buatlah garis lurus agar dua sudut bersatu. Ya garis penemu untuk dia dan kamu. Bahagialah dengan kebahagiaanmu yang serba tanpa aku. Tersenyumlah selalu meski senyumanmu lahir di balik tangisanku J