Minggu, 07 Desember 2014

Saat Impian dan Harapan Hancur Berantakan



Saya, adalah seorang pemimpi :) semua yang terlihat indah pasti saya impikan ada dan hadir dalam hidup saya, mulai dari diterima di PTN favorit, menjadi penulis sekaligus motivator yang bermanfaat bagi banyak orang, rumah mungil berhalaman luas, membangun rumah tangga bersama dia *gak usah sebut merk deh* :D , memiliki yayasan yatim piatu, membangun taman baca, keliling Eropa, umroh dan haji , anak-anak sholeh/ah yang berkeliaran bak malaikat kecil, kesehatan yang prima yang tak pernah sakit, namun yang namanya hidup tidak semua impian bisa menjadi nyata, tidak semua harapan bisa menjadi kenyataan :) ok deal dulu dengan kalimat pertama ini, “bahwa tidak semua yang kita impikan bisa kita miliki” pertanyaan selanjutnya adalah apa yang harus saya lakukan ketika impian ini hancur berantakan :(
Ketika impian saya hancur berantakan pasti hati nurani saya akan menghibur saya dengan kalimat  “Mungkin ALLAH sedang menunjukkan bahwa impian itu bukan yang terbaik buat kamu, bisa jadi ALLAH sedang  mengajarkan dewasa dengan memberikan hikmah lewat kehancuran impianmu. Bisa jadi ALLAH menguji untuk menaikan level, bisa jadi ALLAH akan memberi sesuatu yang jauh lebih baik dibanding impianmu. Hmm bisa jadi ….
Dan ketika seseorang yang kusayang pergi berlalu, lagi-lagi deh hati nurani saya menghibur dengan kalimat yang serupa, “ Sabar Li.. Jika dia jodohmu pasti dia akan kembali. Jika dia bukan untukmu, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Kamu pasti tahu kan, Allah mengambil seseorang dari kehidupan kita tentu Allah sudah menyiapkan penggantinya yang lebih baik untukmu. Kamu hanya perlu bersabar saja, dan terus berusaha dan berdoa.”
 Iya, hati nurani saya tidak pernah berdusta, semua yang dikatakannya itu adalah jawaban atas hancurnya impian impian saya J

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; ALLAH mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah:216)
Iya betul, bahwa yang diberikan dan yang diambil oleh ALLAH adalah sesuatu hal yang pas untuk saya, pas berdasarkan pengetahuan ALLAH yang Maha Mengetahui, bukan pas menurut ukuran saya, karena kalau menuruti keinginan saya pasti yang pas dengan hawa nafsu saya, namanya juga manusia, pasti sukanya yang enak-enak saja.hehehe J 
Sekarang, bagaimana jika impian sudah hancur, mau mengeluh? menangisi yang sudah berlalu? menumpuk rasa sakit hati? dendam hingga terlampiaskan? semua itu tidak akan mengobati luka, semua itu hanya sia-sia, dan ingat loh “ALLAH membenci kesia siaan” Lagian, menyimpan amarah, dendam, hanya akan memperburuk hati, lebih baikk jangan deh !! it’s really not worthed at all.
Kemudian apa saya harus menyerah setelah impian ini sirna? tentu TIDAK, karena impian saya bukan hanya satu, setelah ini saya harus membangun impian-impian yang lain yang jauh lebih indah, boleh menangis boleh bersedih tapi jangan larut, karena nanti akan kehabisan waktu untuk menyusun impian dan harapan baru J jadi, jalan keluar ketika impian hancur berantakan adalah “MEMBANGUN IMPIAN BARU” teruskan ikhtiar, teruskan berdoa, sampai ALLAH ridho. Jika ALLAH sudah ridho semua akan dimudahkan, ALLAH kan tidak pernah ingkar janji J

Jadilah hamba yang membanggakan penciptanya “Bila memperoleh kebaikan dia memuji ALLAH dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji ALLAH dan bersabar” yuk buat ALLAH bangga memiliki hamba sekuat kita !!

Sudahlah, ikhlaskan apa yang terambil, jangan biarkan hati luka terlalu lama, nanti membusuk loh. Bangunlah mimpi baru, yang jauh lebih indah … jika hancur lagi, pikirkan lagi, mungkin cara yang kemarin salah, maka betulkan dan bangun lagi, hasilnya pasti lebih indah !! ALLAH bersama hamba-Nya yang ridho, Subhanallah Allahuakbar :)

Rabu, 03 Desember 2014

Rabbi, Maaf Kami Sibuk


بسم الله الرحمن الرحيم

Dini hari ini, tanggal 03 Desember 2014 saya kembali berhasil merangkai beberapa kalimat yang menghasilkan coretan cupu ini, entah apa yang saya rasakan saat ini, yang pasti mata saya terlalu sulit diajak tidur karena selalu teringat dosa-dosa yang begitu menumpuk, membuat saya insomnia berkepanjangan. Mari diam dan renungkan sejenak setiap kata per kata dari coretan cupu ini *jiaahh bahasamu Li* :D Selamat membaca J

Sering bahkan sudah terlalu sering kita mendengar kata “bahagia“, dan seberapa sering kita temukan bahwa mereka yang sedang berbahagia, lupa siapa yang memberinya kebahagiaan, hingga Allah kembali menegurnya dengan luka. Saya pernah menonton film RUSH, yang menceritakan tentang perjalanan karier dan kehidupan Niki Lauda. Pada film itu, terdapat satu kata yang begitu susah dicerna maksud kalimatnya “Bahagia itu melemahkan”. Saya agak kebingungan dalam mencerna maksud kalimat ini, bukankah semua orang inginkan kebahahagiaan pada hidupnya? Lantas, apa yang membuat bahagia itu melemahkan?
Pertanyaan tersebut terngiang-ngiang di benak saya, kuajukan sendiri pada diri saya. Setelah lama kupahami, akhirnya saya mengerti maksud dari kalimat itu. Ternyata begini, seberapa sering ketika rasa bahagia menghampiri, ibadah saya tidak sekencang saat sedang patah hati. Seberapa sering saya menjumpai mereka yang tak punya uang, mendirikan sepertiga malamnya tiada henti berharap mendapatkan rezeki, namun setelah kaya mereka lupa bahwa sebagian dari hartanya adalah milik fakir yang Allah titipkan lewat dia. Ada juga, para pelajar yang hanya mengingat Allah disaat mereka hendak melaksanakn ujian sekolahnya, senin kamis nya tiada henti, dhuha dan tahajud nya jalan terus, tapi saat mereka mampu mendapat nilai bagus lalu diterima di SMA/Universitas favoritnya mereka menjadi jarang menghadap Allah. Nah inilah yang disebut bahagia itu melemahkan. *Astaghfirullah*
Saya jadi teringat isi dari buku yang pernah saya baca, judulnya “Tuhan, maaf kami sedang sibuk.” Ada beberapa kalimat yang begitu menyentuh hati dan qolbu saya, seperti ini kalimatnya, “Tuhan..maaf, kami orang-orang sibuk, kami memang takut akan neraka-Mu. Tapi, kami kesulitan mencari dan memilah waktu untuk mengerjakan amalan-amalan yang menjauhkan kami dari neraka-Mu. Kami memang mengharapkan Surga-Mu, tapi kami hampir tak ada waktu untuk mencari bekal menuju surga-Mu.” Wuihh makjleb tuh kalimat. Mari kita kembali bertanya pada diri yang lemah ini, yang kadang tidak mampu berterima kasih pada Allah, apalagi kalau sedang bahagia.
Inilah ciri khas manusia termasuk saya, lemah ketika bahagia, loyo ketika kenyang, sibuk buat Allah tapi maunya doa dikabulkan semua. Begitu sulit untuk berterima kasih atas nikmat yang didapatnya, malah sibuk mencari nikmat yang belum datang. Astaghfirullah betapa sempitnya hati saya sebagai manusia, menuntut, dan terus menuntut, lupa bersyukur, mudah mengeluh, kurang bisa mengendalikan amarah, dan kurang bisa bersabar. Padahal amarah itu yang akan membawa kita ke neraka, sedangkan sabar yang akan membawa kita ke surga.
Tersadar diri ini penuh dengan kekurangan dan begitu lemah tentunya, maka harus belajar lagi dan terus belajar lagi. Belajar memahami takdir, belajar memahami maunya Allah, belajar menjadi hamba yang baik dan taat. Memang sih berkata itu tak semudah melakukan, tapi setidaknya saya sedang berusaha menjadi seperti yang Allah inginkan, menyusun harapan ketika berpulang nanti, maaf sudah saya dapatkan dari-Nya, ampunan pun sudah saya pegang, serta syukur sudah saya torehkan J
Nah buat kamu yang sedang berbahagia, jangan terlena dan jangan larut dalam kebahagiaan itu sehingga membuatmu lupa pada Allah. Ingatlah, bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang kekal, yang kekal hanyalah ada diakhirat. Mari sebelum bobo, kita tanyakan dan renungkan pada diri sendiri,misalnya seperti ini yang selalu saya renungkan,  “Andai ini tidur terakhir saya, sudah siapkah saya menghadap Allah?? Andai ini malam terakhir saya, dosa apa yang sangat ingin saya mintakan ampunan? Andai malam ini terakhir saya, amalan apa yang dapat saya lakukan yang sanggup menyelamatkan saya dari siksa kubur?”
Selamat melakukan perenungan diri dan berdialog dengan diri sendiri J