Kamis, 29 Januari 2015

Malu sama daun!


Thursday, 29 January 2015    01.15 a.m
  
“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”

Pepatah diatas, yang diungkapkan oleh Tere Liye begitu menampar saya di pagi yang gerimis ini, terbayang oleh saya betapa ikhlasnya sang daun, meski dijatuhkan oleh angin dia tidak pernah marah, bahkan tumbuh lagi yang baru, semakin banyak yang jatuh semakin tumbuh daun-daun baru, tanpa melawan, dan begitulah seharusnya saya sebagai manusia. Patuh pada ketentuan Allah, tanpa melawan, karena semakin saya lawan maka akan semakin sengsara hidup saya, sibuk menolak dan memberontak, sibuk mencari pembenaran atas kesalahan yang terjadi, sibuk berkeluh kesah atas segala kehilangan, damn! it’s true kalau kata twitter mah, hehehe … :D
Ada yang bilang bahwa hidup ini seperti membaca novel , dimana tidak semua halaman berisi cerita bahagia, kalau halaman yang kita baca sekarang ini terasa sesak, sedih, menyakitkan, penuh masalah, baca aja terus, nanti juga bakal ada halaman yang bahagia, ada halaman yang akan membuat kita tersenyum bahagia, terbahak bahak lucu, terus saja membaca jangan sampai berakhir pada satu titik, jadikan setiap kejadian hanya sekedar kejadian karena yang bikin hidup ini rumit sebenarnya diri sendiri, pikiran sendiri yang melabelkan kalau jatuh cinta itu bahagia kalau patah hati itu sesak napas, padahal jatuh dan patah tak ada bedanya loh … kan ada Allah yang akan senantiasa membuat hari-hari lebih bahagia tanpa jatuh ataupun patah !!
Belajar dari suatu kehilangan, kehilangan yang sering saya alami, entah itu kehilangan sahabat, tante, nenek, kakek , ataupun pacar *nahloh* . Saya pernah merasa menjadi orang yang paling sengsara dan menderita, merasa bahwa Allah itu tak adil, merasa iri dengan teman-teman yang menurut saya hidupnya penuh kebahgiaan. Seringnya curhat ke teman yang pada akhirnya lelah menjadi pundak saya untuk menangis, kemudian satu persatu berguguran seperti daun, hilang tertiup angin, menguap entah kemana, dan pada akhirnya saya sadari bahwa hanya tinggal saya. Yang jadi pertanyaannya, apa iya hanya tinggal saya? Ternyata tidak, saat saya sendiri justru Allah hadir dengan syahdu, pada malam-malam sujud panjang saya, dan sedikit demi sedikit saya mulai merasakan tak ada lagi yang saya butuhkan kecuali Allah. Saya egois? Kurasa enggak tuh !! Manusia memang makhluk sosial termasuk saya, tapi disaat sendiri , Allah ternyata sesuatu yang sangat saya butuhkan, saya dekati terus Allah, kemudian Allah memberikan sahabat-sahabat terbaik untuk mendampingi saya sebagai pengganti teman-teman yang jatuh berguguran, dan tak tanggung-tanggung Allah juga memberikan semua yang saya butuhkan untuk saya cintai, dan mereka yang juga butuh cinta saya, sungguh Allah hanya akan memberikan cinta yang saya butuhkan agar kami semua saling membutuhkan, bukan cinta yang saya inginkan, karena yang saya inginkan belum tentu saya butuhkan. Satu lagi yang diluar dugaanku, Allah telah mengirimkan sosok kakak yang luar biasa, dialah pengubah awan hitam dalam hidupku menjadi mentari dan pelangi yang terus bersinar dan berwarna J Thanks Allah hidupku begitu asyik J
Jadi biarkan daun jatuh terbawa angin, biarkan embun menguap terganti matahari, biarkan malam dan siang saling berlalu, kita hanya menjalani takdir, baik buruk, indah luka semua sama ketika Allah menjadi sandaran …
So one last cry !! Selamat datang gerimis, dinginmu begitu menyejukkan J
Menangis haru untuk masa kecil yang penuh kebahagiaan. Menangis kecewa untuk masa remaja yang telah kubuang sia-sia. menangis bahagia untuk hidupku saat ini, yang kurasa jauh lebih baik dari sebelumnya J

Rabu, 14 Januari 2015

Separuh Jalan Menuju Hatimu :')



Terkadang ketika terlalu mencinta, seringkali kita terlupa bahwa tidak semua hati patut diperjuangkan. Sebab, ada hati yang tak mungkin diluluhkan, sekalipun kita sudah berjuang mati-matian. Seperti aku kepada hatimu, misalnya. Menujumu, aku sudah separuh jalan. Namun separuh hatimu saja seakan tak mungkin aku dapatkan. Terkadang aku terlalu berusaha untuk menciptakan getaran-getaran itu tampak nyata. Seperti rasa yang tak pernah habis kehilangan asa. Aku menyadari bahwa kamu sama sekali tidak mengerti akan tanda-tanda. Lalu haruskah kita yang sudah aku rangkai dan belum sempat dimulai, menemui kata selesai?
Kusebut kamu debar tanpa usai. Sebab meski cinta ini tak pernah diberi balasan, tetap pada hatimu aku selalu menginginkan. Kusebut kamu satu-satunya penantian. Sebab untukmu aku selalu menjaga hati, tanpa pernah tahu bagaimana membuat harap ini mati. Aku mengejarmu, kamu mengejar yang bukan aku. Kita seperti berlari dalam lingkaran berliku yang ujungnya tak akan pernah berbalik menujuku.
Adakah kiranya setitik aku dalam lubuk hatimu yang terdalam? Sama seperti keinginanku akan kamu yang tak pernah bisa diam. Sempatkah aku untuk bertamu walau tak lebih lama dari waktu-waktu yang telah berlalu? Sebab sama seperti kamu yang selalu berkunjung tanpa memperdulikan logika dan hati yang sedang beradu. Karena di atas segala yang sudah ada, hanya kamu yang kudamba.
Pernah kucoba menyerah, namun hati sudah tak bisa mengubah arah. Entah apa yang akan terlintas di benakmu jika tahu bahwa aku telah menginginkanmu sedalam itu. Aku pernah melupakan harga diri hanya demi mendapatkanmu di sisi. Aku merasa tak keberatan tersakiti hanya untuk menjadi milikmu yang sejati.
Aku layaknya seorang bodoh yang bahagia. Ah, biar saja jika seperti itu.
Dan kamu di sana, aku tidak tahu sedang memikirkan apa. Entah di bagian mana aku di sepanjang garis pedulimu. Mungkin aku hanyalah semu, yang tak pernah terlintas meski seujung kuku sekalipun. Ada suara-suara yang tidak dengan hati ingin kau dengar, ada senyuman-senyuman yang di matamu tidak begitu bersinar. Pada langkah-langkahku yang bahkan sudah goyah, kamu pernah menjadi penunjuk arah..
Tentang tujuan hati yang selalu ada namamu tertulis, hanya kamu sumber kenangan manis. Tentang gores luka sisa perasaan yang tersia-sia, hanya kamu satu-satunya penghilang dan pembawa bahagia. Ini bukan cinta buta. Ini hanya cinta yang terlalu menginginkan sebuah ‘kita’ dan kebersamaan.
Akankah semua asa menjadi nyata? Ataukah akan tetap percuma bersemayam pada segala tumpukan doa?
Padamu aku masih saja menggantungkan harap yang entah kapan akan terjawab. Padamu aku masih saja mendamba segala sesuatu yang indah tentang kita. Pada sebuah arah putar balik, aku memaksakannya lalu justru berhenti di satu titik. Memupuk asa dan keyakinan bahwa menunggumu adalah pilihan yang terbaik. Entah akan sampai kapan, mungkin hingga pada nantinya kamu menyadari segala perasaan-perasaan dan berkeinginan untuk membuka pintu hati secara perlahan. Ah entah kapan—”

Selasa, 13 Januari 2015

Terhenti tanpa memiliki


Pada pertukaran rasa yang begitu tak seimbang, aku menaruh bimbang. Ketika meneruskan hanyalah berarti menambah perih pada luka lainnya, dan berhenti juga tak menyembuhkan apa-apa. Menaruh harap pada waktu yang akan menjawab, mungkin saja percuma, sebab hatimu sudah ada pemiliknya. Sedangkan aku, hanya tamu yang  diundang pada sedikit kesempatan saja. Atau mungkin aku hanya diundang saat kau bermasalah dengannya.
Belum genap memiliki, tapi hati ini seperti dipaksa berhenti mencintai. Harapan sudah mencapai menara tertinggi, tapi terjatuh karena tahu kau sudah ada yang memiliki. Kornea seperti tercelik pada realita. Tadinya pinta bergegas menyapa pencipta agar lekas menyatukan kita. Tapi doa-doa itu menabrak dinding negeri utopia, menyadarkanku bahwa seharusnya angan-angan berhenti disini agar tak menyakiti sesiapapun juga. Andai pertemuan kita tak berbentur pada garis segitiga yang menyatukan aku, kamu, lalu dia pada sudut-sudutnya.
Pada ketiba-tibaan datangnya sebuah rasa, aku memupuk asa. Seakan tidak peduli, bahwa bagian kosong di hatimu sudah ada yang menduduki. Juga tak ingin ambil pusing dengan kenyataan yang mengharuskan kita berada pada jalannya masing-masing. Mungkin sebenarnya ada garis tak kasat mata yang menghalangi agar aku tidak melangkah lebih jauh lagi. Namun aku memilih untuk berpura-pura tidak menyadari keberadaan hal tersebut.
RASA
Empat huruf yang biasa-biasa saja namun bisa mematahkan sebuah logika. Hati tak pernah memilih kepada siapa ia akan diambil alih, yang aku tahu aku jatuh cinta pada pandangan pertama hingga seterusnya. Pada sebuah keramaian dan kamu menjadi pusat perhatian di atas panggung sedang aku hanya duduk di pojokkan, menyaksikanmu dari belakang panggung. Siapa sangka kamu yang seperti lampu, pada saat setelah turun hujan memanggil laron untuk menari di dekatnya malah menghampiriku. Kita pecah dalam perbincangan tentang banyak hal hingga kembali menempati pada titik kenyamanan. Segalanya aku lakukan dengan beberapa kali melakukan penolakan terhadap hatiku sendiri, kamu telah bersamanya dan seharusnya aku tahu diri. Tapi kenyataannya hanya dengan tatapan tenang luar biasa pertahananku runtuh seketika.
Bukan salah hati, jika sebuah rasa mampu mengundang rindu setengah mati. Bukan pula salah hati, jika sebuah rasa kelak menjadi alasan ada rasa yang tersakiti. Nyatanya, cinta memang Tuhan ciptakan dengan mata yang buta arah. Bisa menuju siapapun, bisa terjatuh di manapun, dan bisa terjadi kapanpun.
Sebenarnya aku sudah lelah menjatuhkan cinta pada hati yang salah. Aku juga ingin rasaku berbalas, bukan terus menerus berbatas. Harus meminta seperti apa lagi, agar hatiku yang masih kutitipkan padamu, bersedia pulang kembali? Karena setiap kubiarkan perasaan-perasaan ini tinggal, aku takut lukaku akan semakin kekal. Namun saat kupaksakan untuk pergi melangkah, masih ada ketidak relaan dalam hati ini. Padahal, bukannya tak kucoba mendayung perahu gerakku keluar dari zona segitigamu, tapi setiap gerikmu merangkul rasaku agar tetap disitu. Posisiku selalu serba salah. Di sisi diri, aku tak ingin kau dirangkul oleh orang yang salah. Karena hati ini bisa membahagiakanmu dengan berlipat kali dari yang ia beri. Tapi disisi hati, aku akan menjadi sangat bodoh jika terus berusaha mengejarmu yang sudah jelas tak sedikitpun menyayangiku, aku juga sangat salah jika berulah menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian.
Tak mungkin menumpukkan luka dengan sesuka demi kebahagiaanku semata. Pada akhirnya, aku akan meminum racun air mataku sendiri karena tak berdaya meraih kamu agar berada di sisiku. Sewujud cinta tak pernah tahu dengan pasti di mana ia semestinya berada. Karena bukankah ia tumbuh begitu saja? Ini bukan pilihannya jika kemudian ia berada di antara sepasang yang sedang sebenar-benarnya merindukan rasanya pulang. Ini di luar kemampuannya, jika ia justru menjadi sosok ketiga. Sepasang mata yang tanpa henti ia tatap, mungkin karena di situlah ia merasa sudah menemukan jawab. Hingga kemudian kenyataan menjadikannya lenyap. Kemanakah ia harus melangkah? Ketika untuk menetap adalah hal yang tidak mungkin, untuk meninggalkannya merupakan sebuah langkah yang begitu berat.
Begitu banyak pertanyaan terjun bebas ke kepalaku tanpa jawaban yang sejatinya aku tidak tahu. Yang aku tahu aku terlanjur menyayangimu, tapi akan begitu rumit dalam realita. Setiap hari aku harus menenangkan rindu yang berteriak mencari dimana tuannya, karena sejatinya tuannya tak juga merasakan rindu yang sama. Kamu bersamanya sejak kemarin hingga hari ini, sedang aku selalu menjadi sendal jepit yang meski nyaman namun tak akan pernah digunakan dalam acara-acara peringatan. Kamu tahu aku ada, kamu mencariku saat bertengkar dengannya lalu aku dengan mati-matian harus menahan diri bahwa orang yang aku cintai sedang bercerita banyak tentang orang yang dia cintai. Lagi-lagi aku tidak berdaya, aku menurunkan kasta, jika memilikimu itu hal yang sulit, maka ijinkan aku ada di saat kau sulit.
Setoples air mata telah kutampung dengan percuma, sebab tak akan memberi pengaruh apa-apa bagi hatimu yang hanya untuknya. Sepenggal harapan hati hanya ingin istirahat menanti, setelah berjuta hari menunggumu di sini. Mencintamu itu bukan penyesalan, namun nyatanya tak ada cinta yang tak ingin diberi balasan.
Yang kuingin kebahagiaan, seperti kala sepasang mataku menyaksikan kalian berbahagia dan berduaan. Yang kuingin kepastian, tentang tarik menarik asa dan rasa yang seperti tak ada ujungnya. Yang kuingin cinta yang sederhana, cukup sederhana hingga aku tak perlu meminta apa-apa untuk dapat merasa bahagia, hingga aku tak perlu merasa kecewa sebab keinginan tak sejalan dengan kenyataan, hingga aku tahu rasanya dicinta tanpa perlu mengiba.
Biarkan perasaan ini perlahan mengikuti aliran tanpa terlihat sebagai kesalahan, karena menurutku ini bagian dari pelajaran dalam perjalanan. Pada siapapun ia takkan mungkin menurut, sampai waktu yang tepat membiarkan ia menyurut. Meski hati begitu menginginkan, tapi aku tahu batas-batas yang tak bisa dipanjati. Entah siapa yang akan menggesermu dari segala ketetapan-ketetapan perasaan, tapi aku hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan. Aku sedang menunggu saat yang tepat untuk keluar dari segitigamu, lalu silahkan buatlah garis lurus agar dua sudut bersatu. Ya garis penemu untuk dia dan kamu. Bahagialah dengan kebahagiaanmu yang serba tanpa aku. Tersenyumlah selalu meski senyumanmu lahir di balik tangisanku J